Mengkritik Gak Sama dengan Menghakimi…

Bacaan pertama sangat aktual: banyak orang sudah dibaptis tetapi gaya hidupnya lebih mirip dengan gaya hidup penyembah berhala (konsumerisme hedonistik, fanatisme fundamentalistik, maupun absolutisme ideologis…wah opo maneh kuwi). Ya memang, kalau 50% orang yang dibaptis dan 50% orang yang diislamkan itu hidup seturut nilai-nilai terdalam kristiani atau keislaman saja, tentu sudah sejak lama kehidupan di dunia ini berlangsung dalam damai dan sejahtera. Kenyataannya, gak banyak orang yang punya integritas sebagai umat beriman.

Loh, Romo kok malah menghakimi orang lain sih? Nanti Romo dihakimi loh!

judging

Saya sih gak bermaksud menghakimi, tetapi menyodorkan kritik bahwa orang yang dibaptis pun hidupnya bisa bergaya penyembah berhala. Yang saya nilai adalah gaya hidup seseorang, bukan motivasi dan isi hati seseorang atau sekelompok orang. Menilai pekerjaan orang lain, mengkritisi pola pikir orang lain tidaklah sama dengan menghakimi orang lain. Seorang pastor boleh saja meminta umatnya berpakaian sopan untuk menerima sakramen tobat, tetapi sangat aneh kalau pastor tidak memberi absolusi kepada umat beriman (yang sungguh bertobat) hanya karena ia mengenakan tanktop sewaktu mengaku dosa.

Yang pertama adalah kritik atau teguran atas paham orang lain: mbok ya junjunglah sedikit sopan santun. Yang kedua adalah penghakiman, eksekusi penilaian atas keseluruhan pribadi seseorang: kamu tak boleh menerima pengampunan! Sekelompok masyarakat tentu berhak mengkritik warga yang merongrong agama orang lain, tetapi kalau kemudian mereka mengeksekusi sendiri kritik itu supaya keinginan mereka terlaksana, tindakan itu disebut sebagai main hakim sendiri.

Mengapa menghakimi orang lain tidak disokong oleh Kristus? Karena yang tahu kedalaman hati seseorang adalah Tuhan dan orang itu sendiri. Menghakimi diri sendiri masih bisa diterima karena ia sendirilah yang tahu keseluruhan tindakannya (motivasi, tujuan, dan cara yang dipilihnya). Menghakimi orang lain hanyalah menunjukkan seberapa dangkal atau dalam tolok ukur yang kita pakai, yang ujungnya malah menunjukkan seberapa dangkal atau dalam hidup kita: legalistik, otoriter, pluralis, moderat, manusiawi, rohani, berbudaya, dll.

So, meskipun tak menghakimi, orang masih bisa melakukan penilaian. Orang beriman justru mesti mengambil posisi untuk melakukan penilaian baik-buruk atau benar-salah. Misalnya dua capres itu masing-masing pasti punya baik dan buruknya dan orang mesti memilih siapa dari dua capres itu yang kiranya lebih kondusif untuk menegakkan kebaikan bagi seluruh bangsa. Loh, ini kok ada kata dua ditebalkan dan digarisbawahi sampai dua kali itu maksudnya apa toh???

Bukan apa-apa, kemarin habis akreditasi dan sering mendengar kata dua itu di sana sini, jadi terkesan deh sama kata dua. Percaya gak eaaaaa…..


SENIN BIASA XII
23 Juni 2014

2Raj 17,5-8.13-15a.18
Mat 7,1-5

2 replies

  1. Percaya kok rm Andre. Percaya kok rm Andre. (Lho kok saya ngetik sampai dua kali ya?) (Lho kok saya ngetik sampai dua kali ya?)

    Like

    • Wooo…. kayaknya kita ini sableng ya.
      Wooo…. kayaknya kita ini sableng ya.
      Lha ini kalau diulang sampai seratus kali mungkin bisa jadi anggota komunitas blirik ya, haha….

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s