Mari Sepedaan

Katanya, semakin orang mendalami agamanya, semakin ia sampai pada titik temu dengan agama lain. Artinya, semakin seseorang masuk pada kedalaman agamanya, semakin lebih mudahlah ia masuk ke dalam substansi agama universal. Bayangkanlah sebuah roda yang punya ruji-ruji. Poros roda itu kedalaman agama dan ujung ruji-ruji itu adalah agama yang dibuat orang (meskipun masing-masing penganut agama mengklaim agamanya sebagai wahyu Allah sendiri). Poros roda itu menjadi titik temu dari ruji-ruji yang menahan bentuk roda.

Akan tetapi, itu adalah metafora yang dalam keadaan konkret perlu diberi konteks tertentu. Konteksnya adalah bagaimana orang mendalami agamanya sendiri. Bagaimana caranya orang mendalami agamanya sendiri? Apakah, misalnya, sebagai orang Katolik, ia mesti kembali ke bahasa Latin, menghidupkan kembali bentuk-bentuk peribadatan yang dulu populer, aktif dalam kegiatan intern gereja? Bisa jadi, tetapi sekarang itu tidak lagi relevan. Sebetulnya juga bukan baru sekarang sih.

Bacaan hari ini mengisahkan bagaimana Natanael ditunjukkan sebagai orang yang sepenuh hati hendak mendalami agamanya secara setia. Konon pohon ara memang tempat bernaung bagi orang yang hendak mempelajari Kitab Suci, sebagaimana Buddha mendapat pencerahan di bawah pohon tertentu. Ia hendak masuk ke dalam substansi agamanya. Apakah ia berhasil? Berhasil, tetapi bukan karena dia sibuk dengan tradisinya sendiri, melainkan ketika ia melihat kedatangan orang lain yang hendak membongkar kepicikannya mengenai hidup ini.

Jadi, meskipun gerak pendalaman agama bisa dimetaforakan sebagai gerak dari ujung ruji ke poros roda, dalam praktiknya, pendalaman itu terjadi senantiasa dalam dialog dengan yang lain. Dialog seperti ini justru menjadi tolok ukur apakah memang suatu agama bersifat universal atau klaim universalnya itu cuma klaim sepihak saja. Itu yang kemarin saya sebut sebagai ironi: mengklaim agama sebagai agama kemanusiaan, tetapi kok malah mengafirkan agama lain. Agama universal mestinya bisa ditimba juga oleh agama lain dan dengan demikian, agama itu juga punya kemampuan untuk belajar dari agama lain. Tentu saja ini tidak sama dengan pencampuradukan agama: setiap Jumat ke masjid, setiap Minggu ke gereja, setiap Nyepi ke pura di Bali, ikut-ikutan puasa Ramadhan dan masa Prapaska, dan sebagainya. Itu lebay dan malah menunjukkan kualitas orang beragama tanpa karakter.

Niat baik saja tidak cukup mengantar orang pada universalitas agama. Bukankah semakin terpampang dalam hidup bermasyarakat kita bahwa niat baik itu bisa dipelintir atau dipelintirkan atau disesatkan oleh agenda lain? Marilah kita berdoa untuk keutuhan bangsa ini yang tampaknya memang berpeluang diterpa upaya pecah belah. Semoga semua umat beragama tidak semakin nyaman dengan kaca mata kudanya, tetapi semakin melihat keindahan perjumpaan dengan yang lain, yang membantu orang untuk masuk ke kedalaman agamanya masing-masing.

Ya Allah, mampukan kami untuk mendengarkan suara-Mu juga dari saudara-saudari kami yang setia dengan agama yang mereka peluk. Amin.


PERINGATAN WAJIB S. BARTOLOMEUS RASUL
(Hari Rabu Biasa XXI A/1)
24 Agustus 2017

Why 21,9b-14
Yoh 1,45-51

Posting 2016: Santo Pandir?
Posting 2015: Mau Bikin Menara Babel?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s