Semua Salah Jokowi 😂😂😂

Kemarin saya mendapat hiburan dari berita di medsos. Awalnya Jokowi menengarai elektabilitasnya di Jawa Barat turun karena maraknya hoaks. Lalu, ditanggapilah pihak sebelahnya supaya Jokowi jangan menyalahkan pihak lain, dan tertangkaplah petinggi pihak sebelah karena pemakaian narkoba, lalu pihak sebelah sendiri yang berkoar-koar menyalahkan pemerintahan Jokowi yang tak bisa menghapus peredaran narkoba di bumi Indonesia. Ha njuk partaimu sudah berbuat apa untuk menghapus peredaran narkoba? Jangan-jangan, kalau terkena obesitas sampai tak mampu memotong kuku kaki sendiri, Anda salahkan juga pemerintahan Jokowi yang tak mampu mengurangi angka obesitas di negeri ini!

Kalau begitu, lawan Jokowi ini menghayati kehidupan yang bertentangan dengan inspirasi teks beberapa hari lalu (bdk. posting Doyan Kefir?). Mereka menghidupi sendiri kritik mereka terhadap Jokowi, dan saya mesti mengakui bahwa sebagian lawan Jokowi ini adalah orang-orang pemberani. Pemberani gimana?
Dalam salah satu adegan film Restless Heart, Augustinus diingatkan oleh gurunya tentang apa yang membedakan orator ulung dan orator biasa. Pembedanya ialah keberanian untuk hidup tanpa kebenaran. Itu juga yang saya pakai untuk mengatakan bahwa lawan-lawan Jokowi itu pemberani. Tentu bertolak belakang dengan keberanian yang diteriakkan Jokowi.

Bagaimana orang bisa jadi pemberani seperti itu? Bagaimana orang bisa hidup tanpa makna? Bagaimana orang bisa melawan pedoman “berani karena benar, takut karena salah”?
Barangkali teks bacaan hari ini bisa dipakai untuk menjelaskannya. Petrus mengklaim bahwa dia dan teman-temannya sudah meninggalkan segala sesuatu untuk mengikuti Guru dari Nazareth. Secara implisit dari konteks bacaannya bisa dipahami bahwa Petrus bertanya,”Apa Upahnya?” Itu sudah saya bahas. Saya hendak bergerak ke belakang sedikit soal meninggalkan segala-galanya.

Seperti orang susah move on, bisa jadi orang beriman pun tiada henti mendapat godaan. Itu mengapa beberapa toko memberi catatan dalam invoice: barang yang sudah dibeli tak dapat ditukar atau dikembalikan. Maksudnya, kalau sudah memutuskan yang terbaik, ambil aja; kalau ternyata barang pilihannya tak sesuai harapan sewaktu memilih, ya terima aja nasib lu! 😝
Ketika orang mengalami ketidaknyamanan, ia bisa tergoda kembali ke masa lalu atau mencari-cari yang lain dan tak pernah benar-benar menerima dan menghadapi kenyataannya. Godaan datang silih berganti, merenggut pikiran, hati, kehendak, waktu, pilihan, dan seterusnya. Godaan yang satu ditinggalkan, yang lainnya datang, dan ketika kepalsuan merenggut pikiran, lama kelamaan kepalsuan itu menggerogoti seluruh hidup orang. Tak susah memahaminya, bukan?

Saya kira delapan Jalan Kebenaran yang diajarkan Sang Buddha bisa menjelaskannya. Maksud saya, bukan bahwa lawan-lawan Jokowi itu menghayati Jalan Kebenaran Buddha sehingga mereka jadi pemberani. Sebaliknya, mereka sudah jatuh sejak dalam cara mengerti kehidupan ini sehingga cara berpikirnya terserang godaan dan selanjutnya tutur kata dan perbuatannya korup. Mereka pemberani, tetapi dalam hidup tanpa makna. Yang disodorkan Guru dari Nazareth hari ini adalah upah orang beriman sejati: hidup dalam kebenaran, hidup dalam kebermaknaan. Nah, kalau orang mulai berpikir bahwa upah hidup berimannya kelak di kemudian hari yang entah kapan, ia sudah tergoda sejak dalam pikirannya.

Hidup bermakna itu, sekarang dan di sini. Amin.


SELASA MASA BIASA VIII C/1
5 Maret 2019

Sir 35,1-12
Mrk 10,28-31

Posting Tahun B/2 2018: Semoga Bahagia
Posting Tahun A/1 2017: Manusia Sampah * 
Posting Tahun C/2 2016: Kirik nan Suci

Posting Tahun B/1 2015: Apa Upahnya? *
Posting Tahun A/2 2014:
Sense of Security

2 replies

  1. Di era ini sangat enak, perlu menyalahkan seseorang karena segala sesuatunya, sekarang ada!

    Kesalahan kadang mesti dibuat agar ada, dan manusia yang takut bisa lari ke arah sisi berlawanan yang merupakan kebenaran dari kebalikan sesuatu yang dibuatnya sendiri. Kadang menyedihkan, tapi mungkin itu adalah kebanyakan dari kita.

    Like

    • Ada istilah felix culpa (kesalahan yang membahagiakan), yang mungkin memang perlu dihayati supaya kesalahan yang menyedihkan itu tak berhenti sebagai tragedi🙏🏼 Terima kasih berkenan mampir.

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s