Cerah Agama?

Beberapa hari yang lalu saya mengikuti seminar yang salah satu pembicaranya adalah Prof. Dr. Siti Musdah Mulia. Bukan karena gagal fokus, melainkan karena saya mau mengaitkannya dengan teks bacaan hari ini, saya menyampaikan ilustrasi beliau mengenai relevansi agama dalam dunia modern. Ilustrasi itu datang dari penelitian mahasiswanya terhadap dampak proselitisme di beberapa tempat di Indonesia. Sebagian warga masyarakat adat dikristenkan, dan setelah jadi Kristen, mereka justru tak lagi hidup dalam kesadaran ekologis seperti sebelumnya dihayati dalam masyarakat adatnya. Begitu juga halnya dengan sebagian warga masyarakat adat yang diislamkan, setelah jadi Muslim, mereka kehilangan passion terhadap hidup ekologis.

Fakta penelitian itu tentu mengundang tanya. Mengapa agama malah menjauhkan orang dari kesadaran ekologis? Bukankah setiap agama punya klaim soal relasi horisontal dan vertikal? Variabel apa dalam agama yang membuat orang beragama baru malah meninggalkan substansi penting agama adat?

Kalau itu yang terjadi, cuma orang-orang ekstremlah yang menghidupi agama karena agama jadi tak menarik minat baik orang modern maupun posmodern.
Bagi orang saleh agama tidak cukup sakral.
Bagi penggemar kebebasan agama tidak cukup liberal.
Bagi kaum buruh agama tak cukup sosialis.
Bagi aktivis komunitas agama jadi terlalu birokratis.
Bagi pencinta kehidupan agama jadi terlalu moralistis.
Bagi penggemar esoterisme dan pencari makna kehidupan agama jadi terlalu simplistis.
Begitu kata senior saya dari Jerman.

Sinis tampaknya, tetapi saya kira begitulah keadaan real countnya #eh. Lha kalau begitu, tambah lagi tak menjamin moralitas, ngapain orang beragama dong ya selain demi komoditi politik dan mendongkrak elektabilitas partai? Njuk agama cuma jadi topeng power relation dan dengan sendirinya malah menghancurkan kemanusiaan, selain mengeksploitasi alam.

Teks bacaan hari ini menunjuk poin krusial mengenai ‘kelahiran kembali’. Setiap agama, kalau tidak mengalami ‘kelahiran kembali’ itu, jatuh dalam bahaya-bahaya tadi. Guru dari Nazareth saya kira tidak hendak mengajak Nikodemus menanggalkan agama Yahudinya, tetapi menghidupinya dengan suatu pencerahan yang membebaskan dengan mengikuti dorongan Roh, yang dalam teks dianalogikan sebagai angin. Murid-murid Guru dari Nazareth menghayatinya dengan membangun cara hidup bersama dengan prinsip yang kiranya juga dihidupi oleh masyarakat adat pada umumnya: berdikari dalam kebersamaan.

Saya bukan promotor masyarakat adat, apalagi mengembalikan agama ke dalam bentuk primitifnya, tetapi memang orang beragama mesti menghidupi agamanya dalam semangat pencerahan. Kata pencerahan sendiri tak perlu juga dilekatkan pada revolusi rasionalitas zaman modern atau tradisi spiritual Buddhisme, misalnya. Kadang pencerahan itu hanya berarti lumrahnya orang alias menjadi manusia. Bisa jadi pencerahan itu cuma berarti mengupayakan supaya quick count sedapat mungkin cocok dengan real count. Pencerahan itu juga kadang tak lebih dari membinatangkan binatang. Pokoknya, mana yang bikin orang empan papan gitulah. [Lha ya itu susahnya, Rom!]

Tuhan, mohon rahmat supaya kami semakin jujur pada panggilan-Mu. Amin.


HARI SELASA PASKA II
30 April 2019

Kis 4,32-37
Yoh 3,7-15

Posting 2018: Melarisi Rompi Oranye
Posting 2016: Reklamasi… Dengan Ini…
Posting 2015: Real-Time Heaven 
Posting 2014: Kristenisasi Yang Nonsense

2 replies

  1. Bagi timses politik agama jadi modal nyari suara
    Bagi oknum tertentu agama jadi tempat cari makan

    …itu kata netijen hehehehe…

    Like

Leave a Reply to romasety Cancel reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s