Bagi yang dekat Tuhan

Pada diri orang yang hidup ‘dalam terang’

Hidup orang seperti ini ditandai dengan kepercayaan yang cukup mengenai Tuhan (bahwa dunia ini ada yang menciptakan dan Sang Pencipta itu masih punya relasi dengan manusia ciptaan-Nya). Ia memberi tempat kepada dimensi hidup rohani dan memperhitungkannya sungguh-sungguh meskipun barangkali ia belum mengetahui caranya.

Bisa juga orang dikategorikan dalam kelompok ini orang yang mengalami pertobatan dalam hidupnya karena baru saja melewati pengalaman ambang batas: hampir mati tenggelam, terhindar dari kecelakaan fatal, terkena penyakit mematikan karena relasi seksual yang tidak sehat, dan sebagainya. Orang ingin memperbarui hidupnya dan maju dalam menghayati azas dan dasar.

Dalam diri orang seperti ini, kerja roh jahat frontal, menyesakkan, dan mengupayakan tipu daya yang bisa menjebak orang supaya akhirnya kehilangan gairah, kehilangan energi untuk berkembang secara rohani. Caranya?

  • Menyerang penalaran orang, menyinggung bagian sensitifnya dengan rasionalitas semu atau alasan palsu: “Ah, orang lain juga gak mikirin” “Banyak orang juga santai dan gak peduli kok”
  • Menggembosi semangat orang sampai ia menyerah atau bahkan malah membatalkan niat atau kebiasaan baiknya. Roh jahat membuat orang jadi nglokro, loyo sehingga daya tahannya habis untuk melanjutkan tindakan baiknya.
  • Menyerang kelemahan manusiawi orang dengan membuatnya minder, putus asa, bersemangat hangat-hangat tahi ayam, suam-suam kuku, dlsj: orang yang tak teratur hidupnya dibuat semakin tak teratur sehingga energinya habis untuk pekerjaan (yang memang baik) dan mengabaikan hal lainnya sehingga malah keseimbangan hidupnya terbengkalai.

Kerja roh baik berlawanan dengan kerja roh jahat tadi:

  • Memberikan dorongan, semangat, dan kekuatan supaya orang berani mengatasi halangan, mengabaikan ejekan dari roh jahat.
  • Menyadarkan orang mengenai pokok-pokok iman, kasih, dan harapan yang sejati.
  • Membuat orang berani terbuka terhadap orang lain, apalagi kepada orang yang dipercayainya sebagai pembimbing rohani, misalnya.
  • Mendorong orang untuk jadi lebih rendah hati, tabah dalam kesusahan, bersedia mengampuni orang lain, dan seterusnya.

Ada enam ciri roh jahat yang dipaparkan dalam Paul Suparno, Roh Baik dan Roh Jahat: Praktek Pembedaan Roh dan Pemilihan menurut Latihan Rohani St. Ignatius (Kanisius, 1999). Ciri ini bisa menjadi indikator bagi kuasa jahat yang hendak menguasai orang supaya tidak maju dalam hidup kerohanian secara khusus dan kepribadian pada umumnya.

  1. Kesedihan: konon, kejahatan adalah kesedihan abadi sehingga kalau kejahatan menghampiri kita, ia menawarkan kesedihan. Roh jahat mau membuat orang jadi sedih. Orang sudah mengambil keputusan yang baik, tetapi setelah itu bukannya ia gembira, melainkan dirundung kesedihan.
  2. Keraguan yang tidak pada tempatnya. Keraguan metodis ala Descartes memang berguna, tetapi kalau pilihan hidup yang dihayati seseorang terus menerus diragukan sendiri, itu pertanda bahwa keraguan itu berasal dari roh jahat.
  3. Lebay terhadap kesulitan atau hambatan. Roh jahat menyangatkan kesulitan, tetapi malah menyembunyikan hal yang mendukung atau kemungkinan positif. Ia menyampaikan sebagian alasan, tidak menyeluruh. Misalnya anak gadis yang hamil karena extramarital intercourse dipengaruhi oleh bisikan jahat supaya menggugurkan kandungannya karena alasan nama baik, kesulitan finansial atau karir.
  4. Kekacauan yang dominan: situasi tanpa kepercayaan antara anggota keluarga, urusan berantakan, kekerasan dalam rumah tangga, anak-anak saling berkelahi… ini semua indikator kuasa jahat.
  5. Rasionalitas atau alasan palsu. Pejabat bisa menyodorkan kepentingan publik, pengembangan daya tahan pangan, tapi praktiknya lebih terkait soal tender mana yang ia mau menangkan. Ini petunjuk kerja roh jahat juga. Contoh lain: menolak baptis bayi demi penghormatan kebebasan; itu juga adalah alasan semu.
  6. Ketakutan. Calon walikota yang semula berapi-api ingin maju bersama seluruh warga tiba-tiba merasakan ketakutan untuk maju, bukan karena takut tak bisa menutup biaya kampanye, melainkan karena takut terhadap beban tanggung jawab. Ini adalah indikasi adanya roh jahat juga.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s