Tulus

Published by

on

Ini lanjutan posting BanSos kemarin, yang diakhiri dengan pertanyaan apakah pandemi memang mengubah semua yang terhubung dengan strategi politik filantropi dan subsidi yang menyentuh hati (untuk tidak mengatakan rasa). Sekadar info, di pertengahan abad kedua Masehi, politik dermawan para oligark di Yunani Timur itu mencapai titik tertingginya; saya tidak bisa menampilkan grafiknya di sini [sebetulnya bisa, cuma malas saja sayanya]. Bisa dimengertilah: semakin kesenjangan tinggi, semakin para oligark cari cara untuk menambah obat bius, melumerkan kaum papa miskin supaya tak melihat kenyataan yang njomplang alias tidak adil itu. Mereka semakin gencar sumbang sana sini, toh tidak membahayakan gaya hidup mereka.

Apa daya, pandemi cacar (The Antonine Plague, 165-180 M) mengubah semuanya akibat berkurangnya populasi polis, baik di kota maupun pedesaan. Orang desa yang menggarap tanah oligark memang sudah biasa hidup susah, tetapi oligark di kota mesti memutar otak untuk mempertahankan posisi mereka. Entah berapa persen oligark berkurang akibat pandemi, tetapi tren naiknya sewa lahan jadi tersendat, dan dengan demikian, pendapatan para oligark ini juga semakin seret.

Jadi, gimana supaya para oligark dapat mempertahankan kedermawanan mereka ya? Eksploitasi saja toh para penggarap lahan mereka! Karena kaum non-elit ini mengalami eksploitasi, sudah biasa susah malah semakin tambah susah, pamor bansos jadi tak terlihat dominan karena kesusahan memuncak. Ini juga bisa dimengerti, pasti ada titik batas ketika desakan kebutuhan fisik membuyarkan aneka kebutuhan psikologis.

Apakah eksploitasi pasca pandemi itu menjadi satu-satunya penjelasan merosotnya pamor bansos atau subsidi?
Tampaknya tidak. Ada faktor lain yang membangun budaya politik tertentu di Yunani Timur saat itu, yaitu apa yang disebut sebagai majelis rakyat (ekklēsia). Apakah majelis rakyat itu? Analogikan saja itu sebagai asosiasi profesional atau NGO atau komunitas sosial keagamaan yang secara berkala berkumpul untuk membahas tata kelola hidup bersama mereka. Barangkali forum rembug desa atau musyawarah atau apa gitu deh. Pokoknya, mereka ini bukan bagian birokrasi pemerintah tetapi benar-benar lembaga swadaya untuk mengurus kehidupan bersama mereka.

Mungkin pantas dicatat bahwa pada saat itu kekaisaran Romawi punya proyek Pax Romana yang intinya bikin seluruh wilayah kekaisaran aman-sentosa-tenteram-damai-makmur-karta-raharja. Roma menata ulang sistem pemerintahan mereka supaya distribusi kemakmuran bisa terjaga dalam imperialisme mereka. Sebutlah itu sebagai sentralisasi kekuasaan.

Akan tetapi, menariknya, sentralisasi kekuasaan itu hanya ditujukan demi Pax Romana tadi: damai di seluruh kekaisaran Romawi. Roma sendiri tidak ambil pusing bagaimana wilayah polis di Yunani Timur itu diperintah, termasuk bagaimana majelis rakyat tadi berkumpul dan bermusyawarah. Menariknya lagi, ada majelis rakyat yang menyodorkan wacana tentang kewargaan inklusif: tak ada lagi budak dan tuan, tak ada lagi diskriminasi Yunani Yahudi Romawi, dan seterusnya. Wacana-wacana seperti itu tidak dilihat sebagai ancaman bagi kekaisaran Romawi.

Siapa yang terancam oleh wacana itu? Ya para oligark!
Majelis rakyat ini menawarkan cara hidup gotong royong, yang untuk zaman modern bisa dianggap sebagai praktik komunisme. Akan tetapi, tentu bukan komunisme yang mereka hidupi. Mereka saling bantu dengan apa yang mereka punya dan secara khusus mereka memperhatikan kaum miskin bin tertindas bin tereksploitasi. Nah3, itu kan sebetulnya bansos dan subsidi juga toh?
Betul! Bedanya, bansos ini tidak diberikan sebagai strategi politik ala oligarki. Ini adalah bansos yang diberikan dengan motif di belakangnya adalah semacam: apa yang kauperbuat kepada orang kecil ini, kauperbuat juga bagi-Ku. Dengan kata lain, tidak ada kepentingan politik kekuasaan dalam skema bansos dan subsidi di situ; itu murni gerakan sosial religius yang pamrihnya sungguh kesejahteraan bersama dan keadilan sosial.

Hidup gotong royong itu rupanya menjadi alternatif bagi bansos dan subsidi yang selama itu dipertontonkan oleh oligark. Alhasil, sejak awal abad ketiga, gerakan bansos-subsidi oligark terlihat mulai kehilangan popularitasnya, tergantikan oleh gerakan sosial yang lebih tulus dengan landasan keyakinan akan Dia, yang jauh lebih berkuasa daripada oligarki.

Apakah kemudian bansos-subsidi lenyap? Tidak. Itu terus berjalan seiring dengan langgengnya ketidakadilan sosial; sebagian memperlakukannya sebagai strategi politik, sebagian lainnya mempraktikkannya sebagai identitas religius. Bedanya ada pada ketulusannya. Yang pertama memperlakukan orang miskin sebagai objek pemberian kekayaan untuk mendongkrak pujian, hormat, dan kekuasaan. Yang kedua menerima orang miskin sebagai bagian penting ibadah mereka (zakat, preferensi kepada orang miskin, dan sebagainya).

Rasa saya, ketulusan lebih menjanjikan daripada janji itu sendiri. Bagaimana menengarai ketulusan? Susah, tapi selagi bisa, cari rekam jejaknya saja, bukan cari-cari janjinya yang cocok dengan kebutuhan. Kenapa? Karena predator tentu sudah melakukan riset dong tentang apa yang bisa disodorkan untuk meluluhkan mangsanya, termasuk dengan iming-iming suci agama. Ketulusan memang langka, bahkan meskipun Tulus terkenal dan wajah polos bisa dikenali.

Previous Post
Next Post