Jaga Jarak

Published by

on

Salah satu hobi lama yang kembali muncul belakangan ini adalah berkunjung ke rumah sakit. Kalau dulu kebanyakan demi menjenguk orang-orang yang sudah mendekati ajal, sekarang ini kebanyakan melihat anak-anak muda yang terkena musibah dan mesti opname dengan operasi yang tidak kecil biayanya. BPJS matters

Dari sekian kasus kecelakaan yang menimpa saya dan orang-orang muda ini, kebanyakan penyebab sebenarnya ialah bahwa orang tidak menjaga jarak secukupnya. Bokong mobil yang saya kendarai pernah ditabrak orang yang setelah saya turun dari mobil segera mencak-mencak dan berteriak bahwa saya ngerem mendadak. Hanya karena saya bukan orang Jawa tulenlah saya tidak membalasnya dengan “Muata-mu mendadak.” Mobil di depan saya lampu remnya mati dan ternyata mobilnya tidak dalam posisi berjalan lagi sehingga saya mesti injak pedal rem dalam-dalam. Moncong mobil saya (bukan mobil saya sih) tak sampai mencium bokong mobil depan, tetapi gubrak bokong mobil saya tak selamat dari ciuman moncong mobil belakang.

Refren tuduhan “ngerem mendadak” juga muncul dari mulut anak muda yang saya jenguk, dan supaya dia tidak jatuh tertimpa tangga tentu saja saya tak menyalahkannya. Bisa jadi truk di depannya memang ngerem mendadak, tetapi toh kalau truk itu ngerem mendadak pasti ada alasannya dan kalau kendaraan di belakangnya sampai menabrak kendaraan yang ngerem mendadak itu artinya tidak ada jarak aman di antara keduanya. Ini tidak peduli di jalan mana pun, mesti ada perhitungan jarak aman sesuai dengan kecepatan kendaraan. Tidak perlu jarak aman 10 meter di jalan kampung ketika mengendarai mobil-mobilan, bahkan jika rem blong pun masih ada opsi untuk tidak menabrak kendaraan di depannya.

Bisa jadi, kebanyakan masalah hidup muncul karena tidak ada jarak aman. Dalam bahasa teknis blog ini, itu adalah disordered attachment, yang bikin relasi jadi toxic dan orang tak bisa lagi membedakan antara ilusi dan hidup sejati. Ini bukan lagi perkara hidup cari aman atau main aman, melainkan perkara menentukan porsi secukupnya. Berkata ‘cukup’ tidak pernah mudah bagi mereka yang punya disordered attachment.

Previous Post
Next Post