Gelar

Published by

on

Saya kan sudah bilang: what kind of justice can you expect from the power acquired by unscrupulous methods?
Di tengah-tengah obral gelar, saya menyelesaikan sekolah sama sekali tidak saya maksudkan untuk mendapat gelar. Saya tak bisa menggambarkan perasaan saya ketika berproses menyelesaikan sekolah itu. Barangkali sekian banyak orang mengejar gelar untuk kepentingan ekonomi atau kepentingan politik. Andai saja saya bisa melakukannya….
Saya memang mendapat keuntungan ekonomis (besaran gaji atau honor naik sedikit), dan mungkin politis (gelar yang disematkan di depan nama mungkin bisa untuk menakut-nakuti tikus), tetapi keuntungan itu tidak bisa saya nikmati sendiri.
Ada banyak orang yang potensial mengejar gelar itu tetapi tidak mereka lakukan karena tahu bahwa hidup dalam penilaian orang lain itu tidak mengenakkan. Lebih nyaman mengutarakan pendapat dan tidak perlu mempertanggungjawabkannya secara akademik. Kalau pendapat salah ya tidak apa-apa, namanya opini kan bisa keliru.

Runyamnya, kalau sudah masuk dalam kekuasaan, kekeliruan itu bisa jadi benar seturut kaidah post-truth. Hambok serasional apa pun jalan pikiran Anda, kekuasaan politik prevails; mungkin hanya Nepal yang bisa menghentikannya. Saya menyimpan angka ’98 yang menjadi bagian hidup saya karena de facto, sebagian komponen ’98 itu begitu masuk dalam kekuasaan, haiya gitulah.

Gelar itu tak hanya ada di dunia akademik. Juga dalam dunia religius ada gelar, semacam Yesus dari Nazaret yang diberi gelar Mesias, Anak Allah, Anak Manusia, dst. Lebih ngeri lagi, sebagian orang mematri gelar “Tuhan dan Allah” kepada Yesus ini tanpa mengerti konteks sejarah. Menyetujui gelar tanpa paham konteks sejarah tidak hanya menimpa Yesus dari Nazaret. Itu juga bisa menimpa orang zaman now, yang tidak menghubungkan gelar dengan ijazah, tetapi dengan politik kekuasaan.

Saya sekurang-kurangnya lega bahwa ijazah saya (asli loh meskipun berasal dari kampus yang tersangkut kasus ijazah palsu) tidak dijadikan jaminan untuk mendaftar kerja di lingkup kekuasaan politik. Otherwise, bisa jadi saya masuk dalam grup penggemar gelar tanpa konteks historis tadi dan ikut membuat post-truth merajalela, sekurang-kurangnya tambah satu.

Terus, kalau sudah gini gimana, Rom? Ya gak gimana-gimana. Berpulang kembali kepada hati Anda dan hati saya. Gelar dan ijazah bisa jadi ambigu di tangan kekuasaan dan saya hanya bisa kembali ke ayat suci Manusia Kuat alat Tulus: Tidak ada satu pun culasmu akan bawa bahagia.

Culas membawa dalam dirinya kekuasaan, dan culas ini bisa merasuk dalam gelar dan ijazah. Tak mengherankan, dengan gelar dan ijazah culas ini kekuasaan digenggam, termasuk juga kelak untuk memberi gelar kepada yang lain, supaya kelak, harapannya, bisa mendapat gelar serupa.

Saya lalu ingat kata-kata A.A. Navis dalam Robohnya Surau Kami ketika secara arogan Haji Saleh menyebutkan gelarnya sebagai Haji: “Aku tidak tanya nama. Nama bagiku, tak perlu. Nama hanya buat engkau di dunia.”

Yes, memang nama, gelar, ijazah, hanya buat engkau di dunia; dan karena itulah engkau berseteru mengenai keasliannya; dan keaslian itu hanya datang dari ketulusan hati yang bisa memilah-milah mana yang membawa bahagia sejati dan mana yang membawa bahaya laten. Semoga mereka yang berjuang untuk membangun ketulusan hati ini tak kenal lelah.

Previous Post
Next Post