Ini bukan materi stand up comedy, tetapi kami para penonton kompak tertawa ketika mendengar tanggapan singkat dari seorang lansia ketika saya mengajak Pak Bowo dan Pak Joko menemuinya. Bowo dan Joko ini, meskipun sudah tua, tetap lebih muda dari lansia yang saya maksud tadi. Selisih usianya sekitar delapan tahun. Begini ceritanya.
Sebutlah lansia itu namanya Pak Harto. Saya sangat menghormatinya sebagai orang tua sendiri meskipun dari ke hari pendengarannya semakin memburuk. Orang lain pun sedemikian menghormatinya sampai tidak pernah menyebutkan namanya dan hanya menyebutnya sebagai Bapak. Sebelum saya ajak Pak Bowo dan Pak Joko, saya sudah berpesan kepada mereka supaya berbicara agak keras karena Pak Harto sudah buruk pendengarannya.
Ketika saatnya saya mengintroduksi mereka pada Bapak, Pak Bowo menyebut namanya sudah agak keras,”Prabowo [tentu bukan nama sebenarnya].” Bapak mengulangi nama Pak Bowo tapi jadi “ora wibowo” dan kami sudah senyum-senyum saja, lalu Pak Bowo mengulangi lagi namanya lebih keras,”Prabowo!” Bapak mengulangi nama “Prabowo” dan lalu melepas jabatan tangan dan meletakkan kedua tangannya di balik punggung. “Oh, Prabowo. Ya, gak apa-apa.”
Pada momen kalimat “gak apa-apa” meluncur dari mulut Bapak yang memasang muka bijak itulah kami tertawa: lha apa salahnya dengan nama Prabowo, jal?
Tidak berhenti di situ. Pak Joko juga memberi salam dan menyebutkan namanya “Jokowi [tentu juga bukan nama sebenarnya]” dan lagi-lagi Bapak keliru mengulangi namanya jadi “ojo kuwi” dan kami senyum-senyum lagi, Setelah Pak Joko mengulangi namanya, Bapak melepas jabatan tangan dan meletakkan kedua tangannya di belakang punggung dan bergumam,”Oh, Jokowi. Ya, gak apa-apa” Wakakakakak…. kalau namanya Jokowi, emangnya kenapa? Apa itu salah? Tidak, kan?
Tapi persis itulah masalahnya. Emang kalo ijazahnya palsu kenapa? Orangnya kan dah berjasa banyak.
Kalau memakai jasa pendengung, memangnya kenapa?
Emang kenapa kalau proses pemilihannya gak etis?
Apa masalahnya kalau dulu keukeuh gak bakal mendukung pemimpin dengan track record jelek dan sekarang jadi pembantunya di BUMN?
Kenapa emangnya kalau ngutang 700 trilyun, kan dipakai untuk puluhan juta anak yang kurang gizi?
Kenapa juga rese’ dengan mereka yang dapat makan basi, keracunan, atau menu separuh, jumlah mereka itu cuma satu persen atau nol koma sekian persen?
Emang kenapa kalo guru honorer dapat bayaran tak tentu selama belasan tahun dan petugas makan gratis dalam setahun malah diangkat jadi Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (P3K)?
Kenapa emangnya kalau anggaran untuk pendidikan dialihkan untuk proyek makan gratis?
Apa masalahnya pemerintah bikin proyek paralel alias jalan sendiri-sendiri tanpa kolaborasi dan integrasi, tambal sulam jalan buat saluran air, listrik, telpon, dan internet?
Emang kenapa kalau tidak adil?
Masih banyak litani yang bisa ditambahkan setelah frase emang kenapa dengan gong ketidakadilan dan orang sah-sah saja bertanya di ujung: kalau tidak adil, trus kenapa? Tidak ada ujungnya selain jawaban Bapak tadi: ya gak papa.
Lalu saya teringat Bapak saya pernah memberi catatan kepada saya ketika saya mesti mengambil keputusan penting dan saya yakin bahwa seluruh pertimbangan saya semata demi kebaikan saya dan kebaikan bersama. Beliau memberi nasihat dalam bahasa Jawa, tetapi saya terjemahkan begini: “Roh jahat itu kerjanya lembut sekali sampai-sampai tak bisa dibedakan dari kerja roh baik.”
Semua memang ya gak papa, suka-suka elu aja, tapi kalo lu masih gak bisa mengenali roh keadilan dan roh ketidakadilan, ya gak usah bawa-bawa dalih kepentingan bersama, Indonesia emas, kekayaan demokrasi, NKRI, apalagi Tuhanlah! Bilang aja demi status quo kekuasaan lu. Itu enak kok, karena status quo tidak berpihak pada korban dan bangga dengan angka, popularitas, kerja keras orang lain, dan mungkin penderitaan orang lain jadi komoditi pansos.

No Comment