Uskup

Published by

on

Saya tidak bisa mengidentifikasi nama Uskup. Saya hanya bisa mengidentifikasi perasaan sendiri: bangga punya Uskup seperti dia. Bukan karena gelar akademiknya yang tinggi. Bukan juga karena kepiawaiannya menarik perhatian umat sederhana. Bukan pula karena statusnya sebagai uskup.

Dalam bincang-bincang dari hati ke hati, saya mendapati pimpinan tertinggi Gereja Katolik partikular ini, yang artinya bukan Paus, berpandangan serupa dengan yang pandangan saya, atau, katakanlah pandangan saya serupa dengan pandangannya karena beliau lahir lebih dulu daripada saya. Akan tetapi, pada kenyataannya, beliau mengangguk-angguk atas apa yang saya sampaikan pada beliau. “Kesan saya, Monsinyur, Gereja kita ini punya slogan bombastis tentang Gereja dialogis dengan sinodalitasnya tetapi mentalitasnya tetap hirarkis.”

Yang tidak saya duga ialah beliau mengafirmasi pengamatan saya dengan contoh. “Dengan membuatkan bangunan ibadah ala basilika megah, Gereja kita memang kurang merepresentasikan gerakan solidaritas yang bergerak secara bottom-up. Atas nama negara, gereja dibangun, bukan atas gerakan organik gotong royong dari bawah.”
“Betul, Monsinyur. Dengan begitu, umat semakin terbiasa memahami Gereja sebagai gedung bangunan, komplet dengan biaya untuk maintenance atau perluasan tempat-tempat ibadat devosional. Gereja jadi semacam gerbang tol untuk tapping kartu dan kabur dengan kendaraan masing-masing.”
“Mungkin lebih tepatnya seperti toll gate yang diantre orang-orang untuk tempel kartu lalu mereka pergi sendiri-sendiri.”
[Loh, ini Uskup kok kayak Thomson and Thomson ya?]
“Bisa jadi lebih parah dari itu, Monsinyur. Gereja jadi tidak berpihak, mengakomodasi umat yang menindas maupun yang tertindas, sampai-sampai perkara anak butuh buku dan pena saja dilempar ke tanggung jawab negara.”

Sampai di situ, Uskup tidak berkomentar. Mungkin karena tahu bahwa perkara itu tidak untuk dikomentari, tetapi untuk bahan mawas diri mengapa Gereja tak lagi menarik dan cuma merepresentasikan agama medioker.
Boleh percaya boleh tidak, setelah melek dan jeda sejenak sebelum membuka medsos saya, yang pertama muncul di layar adalah tulisan mengenai kasus anak bunuh diri dan Gereja Katolik yang tak lagi menarik! Bagaimana saya menjelaskan hubungan antara konten mimpi yang sinkron dengan konten berita yang saya baca setelah saya terbangun dari mimpi Uskup itu?

Saya tidak bisa mengidentifikasi nama Uskup dalam mimpi itu, tetapi saya bisa mengidentifikasi perasaan saya: lega bahwa masih ada banyak umat yang memperhatikan agama bahkan dengan cara-cara yang tampaknya malah mendegradasi agama. Semoga agama-agama semakin menghidupi proses bottom-up dengan solidaritas sejati yang mengatasi popularitas proses top down ala bansos.

Previous Post