Category: Daily Reflection
-

Ironi 3
Saya hendak menunjukkan ironi dan paradoks dalam kita membaca teks bacaan terakhir hari ini, yang menyodorkan perumpamaan tentang doa orang Farisi dan pemungut cukai. Seperti bacaan minggu lalu, meskipun tertulis topik ‘doa’ di situ, tema di baliknya bukanlah per se perkara doa berdoa. Nota bene, perumpamaan di situ jelas dimaksudkan…
-

Janda Z
Saya kok yakin bahwa jika Anda membaca teks bacaan Injil hari ini, Anda akan mendapati diri Anda naif setelah menyimak komentar ini. Kalau tidak, berarti keyakinan saya salah karena keyakinan itu hanya saya dasarkan pada pengalaman subjektif saya ketika membaca teks ini. Sejujurnya, ketika dulu membaca teks ini, saya mengimajinasikan…
-

Bulus
Dunia ini panggung sandiwara. Setiap aktor mengambil topeng tertentu. Semakin baik menampilkan topengnya, semakin pentas sandiwaranya baik. Itu artinya, sang aktor menjiwai topeng, memberi jiwa kepada topeng. Sayangnya, kebanyakan aktor sangat amatir dan tidak bisa memberi jiwa; enaknya topeng diterima, gak enaknya ditolak. Setengah-setengah, mediocre, sehingga malah munafik. Kalau kemunafikan…
-

NBG
Bertindak benar memang mahal harganya meskipun [atau justru karena?] tak mengundang cuan. Saking mahalnya, bahkan kaum oligark pun tak sanggup membelinya [tur ya piyé tukuné?] dan memilih beli tanah atau tambang atau pulau atau pantai atau apa lagi lah. Negara, Rom? Itu mah gak usah dibeli, suap aja aparatnya, nanti…
-

Pecah
Jika ice breaking berfungsi sebagai pencair suasana, memang kata ‘pecah’ wajar dipakai untuk menggambarkan dinamika sekumpulan orang yang semula bak kayu kering tiba-tiba jadi mi keriting saus tiram [lah, bedanya apa?]. Suasananya bukan lagi cair, melainkan pecah. Akan tetapi, jika kata ‘pecah’ dipakai untuk menggambarkan pribadi, mungkin perlu sedikit dipikirkan…
