Category: Daily Reflection

  • Quo Vadis

    Quo Vadis

    Saya punya seorang paman yang bukan anggota MK. Sewaktu saya masih setinggi 58 cm, dia mengajak saya ke pematang sawah sampai kami tiba di sumber air yang sangat jernih. Sumber air itu sudah dibuatkan tepian yang ditembok dengan beberapa pegangan seperti anak tangga untuk turun ke bawah. Om saya meminta…

  • Mati Koe

    Mati Koe

    Anda tidak harus menghancurkan orang lain dengan tangan Anda sendiri karena itu bisa dilakukan lewat tangan orang lain. Caranya gampang: abaikan saja suara hati dan peganglah ke mana suara mayoritas bergerak. Kelak, suara yang paling keras itulah yang pelan-pelan akan menghancurkan orang lain, dan mungkin juga pada gilirannya menghancurkan hidup…

  • Angèl di M.

    Angèl di M.

    Sebutlah namanya begitu, mirip nama pemain bal-balan alias sepakbola Argentina, tapi tak usahlah mengucapkannya dengan gaya Spanyol (akhel di M) atau Inggris (ènjêl di M). Mungkin lebih baik dilafalkan dengan gaya Jawa. Angèl ini petani subsisten, yaitu petani swasembada, yang bercocok tanam pertama-tama untuk kebutuhan hidup dirinya sendiri dan keluarga.…

  • Badut

    Badut

    Salah satu adegan menarik dari kisah sengsara yang dibacakan pada hari ini adalah ketika kepala pasukan Romawi, komandan eksekusi penyaliban, menatap sosok di hadapannya yang tergantung di salib dan berkata,”Sungguh, dia ini bukan badut.”  Dut badut badut badut badut badut badut zaman sekarangMon omon omon omon omon omon omon omon…

  • Prabayar

    Prabayar

    Kalau orang beriman mesti berelasi secara transaksional dengan hidupnya, which is tidak sepenuhnya betul kecuali dalam hidup bisnisnya, ia akan lebih safe menerapkan pola prabayar daripada pascabayar. Maksud saya, ia akan lebih bahagia jika ‘bayar di muka’ bin prepaid daripada ‘bayar kemudian’ alias postpaid atau mungkin pay later. Kenapa bisa gitu? Begini…

  • Gelap

    Gelap

    Manusia lebih menyukai kegelapan daripada terang. Begitulah refleksi seorang penulis atas hidup seseorang yang berupaya mengembalikan orang-orang sebangsanya kepada penghayatan agama yang klop alias konsisten dengan kepercayaan bahwa Allah mencintai ciptaan-Nya. Bisa jadi, menurut penulis ini, Allah lebih sering bertepuk sebelah tangan daripada keplok-keplok bergembira bahwa manusia lebih menyukai terang…