Collect moments, not things.
-

Nemo
Sewaktu saya mengelola sebuah rumah tangga yang anggotanya berjumlah 30 (bapaknya 12, tanpa ibu) dengan karyawan lebih dari separuhnya (betapa makmurnya rumah tangga ini ya, tiap dua orang punya satu asisten rumah tangga), saya sempat dihinggapi rasa curiga karena dari hari ke hari saya mendapati jumlah sendok di rumah ini berkurang. Ini sendok bukan sembarang… Read more
-

Healing
Kadang-kadang kalau saya pergi ke tempat ziarah dan melihat banyak orang datang untuk berziarah, saya bertanya-tanya sendiri: apa sih yang sebenarnya mereka lakukan, apa pula yang saya lakukan? Pertanyaan pertama, saya tidak bisa menjawabnya. Pertanyaan kedua, jelas jawabannya: healing. Dulu saya pernah punya kebiasaan setiap awal tahun ke tempat ziarah. Ya itu tadi, untuk healing.… Read more
-

Stigma
Sampai saat ini, di negeri yang konon sudah merdeka, masih ada orang yang hidupnya jadi lebih rumit bukan karena ia malas atau tidak qualified, melainkan semata karena stigma. Saya ingat betul ketika suatu dini hari bersama beberapa teman menyeberang dari Hong Kong ke Macau dalam kondisi belum tidur sejak dini hari sebelumnya. Di Hong Kong Macau… Read more
-

Dikotomi
Katanya, Tuhan itu selalu bersama manusia. Trus, kalau manusia berdosa, di manakah Tuhan? Tidakkah Dia juga berdosa bersama manusia yang berdosa itu tadi? Begitu pertanyaan yang masuk ke telinga saya hari ini. Menarik memang untuk yang gemar utak atik otak. Akan tetapi, di balik pertanyaan itu ada dikotomi antara Tuhan dan manusia, seakan-akan ada dua… Read more
-

Gebrakan
Menu makan mahasiswa di kampus saya memang variatif, apalagi pas tanggal muda. Kadang saya kepo juga apa yang mereka makan saat saya hendak masuk kantor. “Makan apa itu?” “Nasi ayam, Mo.” “Ayam kampung atau ayam subsidi?” “Kampung, Mo” “Kampung di desa apa kampung di kota?” “Gak tau, Mo. Mungkin kampung desa” “Desa biasa atau desa… Read more

