Latihan doa 1: Diriku apa adanya di hadapan Allah

Persiapan Doa (5-15 menit)

Memilih (baca semua secara sepintas lalu memilih salah satu yang dianggap menyentuh hati), menyiapkan bahan doa:
– Kitab Mazmur 25 (Tuntunlah aku dalam kebenaran-Mu ya Allah)
– Kitab Keluaran 33,7-17 (Aku sendiri menuntun engkau dan memberimu ketenteraman)
– Surat Rasul Paulus kepada jemaat di Roma 12,9-21 (Hendaklah kasihmu tulus)
– Injil Matius 6,5-18 (Doa Bapa Kami)
Mencari tempat doa yang kondusif, menonaktifkan apa saja yang bisa mendistraksi kegiatan doa.
Mengambil posisi yang paling kondusif untuk berdoa (duduk tegak, bersila, telungkup… tapi mungkin posisi ini nantinya membantu orang untuk tidur)

Doanya sendiri (20-60 menit)

Membaca perlahan-lahan dengan penuh perhatian bahan yang telah ditentukan sebagai bahan doa.
Memejamkan mata (atau juga kalau sudah terbiasa dan terlatih fokus dengan pandangan pada satu titik di depan) dan membayangkan dalam mata batin setting yang digambarkan dalam teks bahan doa.
Doa persiapan: Tuhan Yesus, aku mohon rahmat kejujuran dan ketulusan supaya aku dapat datang ke hadirat Allah sebagaimana adaku dan dapat mengalami kehadirannya yang penuh cinta.
Merenungkan pokok-pokok reflektif:
Sekarang ini apa sajakah perhatian atau keprihatinan pokokku? (Pekerjaan, relasi, problem: buatlah daftar perhatianku itu dan klarifikasi pokok persoalannya)
Perasaan dominan apa yang ada dalam diriku di sini dan sekarang ini saat menghadirkan diri di hadapan Tuhan (damai, syukur, penuh harap, konsolasi, terluka, lelah, marah, takut, lesu, depresi, sepi). Sebut dan deskripsikan perasaan-perasaan dominan itu.
Beri waktu bagi diri sendiri untuk sekadar tinggal dalam masing-masing perasaan yang teridentifikasi itu.
Melakukan wawancara batin dengan Kristus yang bergantung di salib atau Bunda Maria berkenaan dengan keprihatinan/perhatian utama dan perasaan dominan yang kumiliki; perhatian dan perasaan dominan tadi menunjukkan keadaan diriku yang bagaimana (belum tulus, sulit mengampuni, mudah iri, terlalu detil, dan sebagainya).
Mohon berkat atas keadaan diriku itu dan tinggal dalam kebersamaan dengan Kristus tersalib atau Bunda Maria.
Tutup dengan doa Bapa Kami atau Jiwa Kristus atau Salam Maria.

Refleksi (5-15 menit)

Mencatat poin-poin penting dalam proses doa:
(1) perasaan-perasaan sebelum doa, pada saat doa, dan setelah selesai doa
(2) insight yang diperoleh dari doa tadi (baik yang bersifat informatif intelektual maupun spiritual)
(3) niat atau dorongan-dorongan yang muncul setelah doa.

3 replies

  1. Mohon pencerahannya Mo. Yang dimaksud “Melakukan wawancara batin dengan Kristus yang bergantung di salib” itu kita membayangkan atau bagaimana? Dalam refleksi Romo menuliskan “mencatat”, maksudnya kita mencatat ke dalam bentuk tulisan atau hanya di dalam batin? Untuk latihan ini, berapa lama (hari) dilakukan? Terima kasih.

    Like

    • Betul mengenai wawancara batin. Di situ peran imajinasi dibutuhkan (mungkin terbantu oleh gambar yang pernah dilihat). Mencatat tentu saja seperti catatan dalam blog ini: memang ditulis; supaya bisa dalam jangka waktu tertentu ditinjau kembali seberapa jauh orang berjalan, ada perkembangan atau tidak, ada pola reaksi yang sama atau tidak, apa yang memunculkan perubahan, dan sebagainya. Mengenai latihan ini dilakukan berapa lama, ya bergantung pada apakah ‘target’ latihan itu sudah tercapai atau belum. Semoga membantu.

      Like