1. Persiapan Doa (5-15 menit)
Memilih (baca semua secara sepintas lalu memilih salah satu yang dianggap menyentuh hati), menyiapkan bahan doa:
– Kitab Yeremia 29,10-14 (Apabila kamu berseru kepada-Ku, Aku akan mendengarkan engkau)
– Kitab Mazmur 147 (Allah menyebut masing-masing dengan namanya)
– Surat 1Korintus 12,4-11 (Satu roh banyak karunia)
– Injil Lukas 12,13-34 (Ketergantungan kepada Allah)
Mencari tempat doa yang kondusif, menonaktifkan apa saja yang bisa mendistraksi kegiatan doa.
Mengambil posisi yang paling kondusif untuk berdoa (duduk tegak, bersila, telungkup… tapi mungkin posisi ini nantinya membantu orang untuk tidur)
2. Doanya sendiri (20-60 menit)
- Membaca perlahan-lahan dengan penuh perhatian bahan yang telah ditentukan sebagai bahan doa.
- Memejamkan mata (atau juga kalau sudah terbiasa dan terlatih fokus dengan pandangan pada satu titik di depan) dan membayangkan dalam mata batin setting yang digambarkan dalam teks bahan doa.
Doa persiapan:
Tuhan Yesus, aku mohon rahmat untuk mengenal, mencintai dan menerima diriku apa adaku dengan menyadari bahwa keunikan dan karuniaku adalah cermin kasih personal Allah yang tak terhingga bagiku.
Merenungkan pokok-pokok reflektif:
- Meneliti hidupku: apa yang kuanggap karunia-karunia yang sangat besar dari Allah? Mengapa karunia-karunia itu kuanggap sangat besar?
- Apa yang kuanggap aset dan kekuatan besar diriku sebagai pribadi? Mengapa hal-hal itu kuanggap besar?
- Apa saja yang kuanggap sebagai kekurangan dan kelemahan besar diriku sebagai pribadi? Mengapa aku beranggapan begitu?
- Dengan aset/kekuatan dan kekurangan/kelemahan itu, apakah aku sungguh merasa krasan dengan diriku sendiri? Kalau krasan mengapa, kalau tidak krasan juga mengapa?
- Sekarang ini adakah sesuatu dari hidup dan pribadiku yang sulit kuterima dan kuakrabi secara penuh? Apakah itu?
- Konon Tuhan menggambar garis lurus juga dengan garis-garis bengkok. Kadang Tuhan ‘mengizinkan’ kenyataan dan situasi yang ‘bengkok’ (tragedi, pertentangan, nasib sial) terjadi dan hal itu malah bisa dipakai untuk merendahkan dan memurnikan diriku dan menyadari kehendak-Nya lalu akhirnya malah menuntun aku lebih dekat lagi dengan-Nya. Garis-garis bengkok apakah dalam hidupku yang rupanya malah membuat relasiku ‘lurus’ dengan Tuhan?
- Bagaimana persisnya garis-garis ‘bengkok’ tadi mengubah hidupku, memberi sumbangan bagi keunikan pribadiku sekarang ini?
Melakukan wawancara batin
Mengimajinasikan Kristus yang bergantung di salib atau Bunda Maria dan menghaturkan hal-hal berkenaan dengan karunia yang kuterima dan kekurangan pribadiku; dengan keberanian dan lapang dada menyerahkan semua itu (termasuk garis ‘bengkok’) kepada penyelenggaraan Allah sendiri.
Mohon berkat dan rahmat penyembuhan atas itu semua dan tinggal dalam kebersamaan dengan Kristus tersalib atau Bunda Maria.
Tutup dengan doa Bapa Kami atau Jiwa Kristus atau Salam Maria.
3. Refleksi (5-15 menit)
Mencatat poin-poin penting dalam proses doa:
(1) perasaan-perasaan sebelum doa, pada saat doa, dan setelah selesai doa
(2) insight yang diperoleh dari doa tadi (baik yang bersifat informatif intelektual maupun spiritual)
(3) niat atau dorongan-dorongan yang muncul setelah doa.
