Haji Heribertus

Nemo dat quod non habet. Orang gak bisa memberikan sesuatu yang bukan miliknya. Paling banter ia jadi tukang pos.

Bacaan pertama hari ini menyinggung komunitas Kristiani di Samaria, tempat yang dikenal oleh orang Yahudi sebagai tempat orang-orang kafir, mereka yang tak bisa bersyukur karena tak punya kepercayaan kepada Allah. Filipus mewartakan kabar gembira dan pengusiran roh jahat dan banyak dari mereka yang memberikan diri dibaptis. Rasul-rasul di Yerusalem mengutus Petrus dan Yohanes untuk menumpangkan tangan mereka supaya orang-orang Samaria yang sudah dibaptis itu dipenuhi Roh Kudus.

Bacaan kedua menyodorkan ajaran Petrus tentang bagaimana orang Kristiani mestinya memberikan kesaksian kabar gembira: siap sedia bertanggung jawab dengan lemah lembut dan respek terhadap yang lain (supaya yang memfitnah nantinya malah malu karena fitnahan mereka sendiri). Memang ada risiko penderitaan, tetapi menurut Petrus: lebih baik menderita karena berbuat baik daripada menderita karena berbuat jahat!

Dari bacaan Injil dapat ditangkap suatu ‘nyawa’ pewartaan kabar gembira: CINTA. Orang yang mencintai Kristus tentulah berusaha menangkap kehendak-Nya dan berupaya menghayatinya, bukan karena kewajiban atau keterpaksaan, melainkan justru karena cinta itu sendiri yang menggerakkan. Nah, itulah persoalannya: kalau orang gak punya cinta, gak mungkin ia mewartakan kabar gembira. Sudah ditulis kan tadi: nemo dat quod non habet!

Tanpa cinta sebagai nyawa tadi, orang gak bisa memenuhi anjuran Petrus untuk melakukan pewartaan dengan lemah lembut dan rasa hormat kepada orang lain, apalagi kepada orang yang dianggap kafir! Orang seperti ini menempatkan dirinya sebagai pribadi yang punya otoritas dan menunjuk-nunjuk orang lain secara arogan: kamu salah, kamu mbalelo, kamu menyeleweng, kamu harus didisiplinkan, dan sebagainya. Institusi Gereja Katolik dulu punya sikap seperti ini, dan sekarang oknum-oknum di dalamnya pun mungkin masih melestarikan mentalitas yang sama.STENCIL: "RESPECT EXISTENCE OR EXPECT RESISTANCE"Mentalitas katak dalam tempurung ini memang bisa berujung pada sikap menuntut, bahkan memaksa dan memakai aneka cara jahat termasuk seperti yang sekarang menimpa capres 2014: ia dibaptis oleh orang non kristen dengan nama Heribertus. Mungkin kalau inisial namanya M ya dibaptis dengan Markus atau Matius atau Michael atau apa deh yang penting elu Kristen! Semoga beliaunya dan para simpatisan tetap memelihara cinta yang tulus kepada bangsa ini. Amin!


HARI MINGGU PASKA VI A/2
25 Mei 2014

Kis 8,5-8.14-17
1Ptr 3,15-18
Yoh 14,15-21

6 replies

  1. Lucunya, para pembuat isu ini justru memperlihatkan bahwa mereka kurang wawasan dengan menuliskan Herbertus, bukannya Heribertus. Mungkin nanti muncul lagi black campaign yg menyatakan bahwa sebenarnya Ir. itu bukan gelar insinyur Jokowi, tapi singkatan dari nama Krisma Jokowi. Jadinya Irianus Herbertus Joko Widodo… 😀

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s