Latihan Doa 8: Nilai, Tujuan, dan Hasrat Terdalam

1. Persiapan Doa (5-15 menit)

Memilih (baca semua secara sepintas lalu memilih salah satu yang dianggap menyentuh hati), menyiapkan bahan doa:
– Injil Matius 2,1-12 (Kisah Tiga Raja dari Timur)
– Surat 1Petrus 2,1-10 (Sekarang kalian adalah umat Allah)
– Kitab Sirakh 17,1-18 (Tuhan dan pribadi manusia)
– Surat kepada jemaat di Efesus 1,3-14 (Dalam Kristus kita dipilih)
Mencari tempat doa yang kondusif, menonaktifkan apa saja yang bisa mendistraksi kegiatan doa.
Mengambil posisi yang paling kondusif untuk berdoa (duduk tegak, bersila, telungkup… tapi mungkin posisi ini nantinya membantu orang untuk tidur)

2. Doanya sendiri (20-60 menit)

  • Membaca perlahan-lahan dengan penuh perhatian bahan yang telah ditentukan sebagai bahan doa.
  • Memejamkan mata (atau juga kalau sudah terbiasa dan terlatih fokus dengan pandangan pada satu titik di depan) dan membayangkan dalam mata batin setting yang digambarkan dalam teks bahan doa.

Doa persiapan:

Tuhan Yesus, aku mohon rahmat untuk memilih dan mengetahui dengan baik nilai-nilai, tujuan dan hasrat terdalamku pada hidup ini, karena sadar bahwa hal-hal itulah yang menunjukkan siapa diriku dan yang membuat hidupku layak dihidupi dan bahkan pantas diperjuangkan sampai mati.

Merenungkan pokok-pokok reflektif:

  • Apa sih persisnya dorongan yang menggerakkan hidupku? Refleksi dan klarifikasi apa dorongan itu!
  • Konon orang yang committed ialah mereka yang tahu apa yang mereka inginkan dan mereka mengejarnya. Sekarang ini apa yang kuinginkan dalam hidup ini berkenaan dengan nilai tertinggi, tujuan dan hasrat terdalam? Ambil waktu untuk menamai dan mengklarifikasinya!
  • Pada saat ini, apa yang menghentikan aku dalam kesungguhan mengejar dan mewujudkan nilai-nilai adiluhung, tujuan dan hasrat terdalamku itu?
  • Jika menggunakan teks Injil Matius, kita memahami kisah para raja dalam pencarian mereka dengan bintang menuju Betlehem. Aku sendiri? Bintang apa yang kukejar dalam hidupku? Bagaimana pengejaran bintang itu membawa perubahan penting dalam hidupku? Ke manakah bintang itu menuntunku?
  • Dalam catatan harian seorang martir muda (Richie Fernando SJ) tertulis begini: Aku inginkan ketika aku kelak mati, orang mengingat bukan talenta atau keunggulanku, melainkan bahwa aku mengabdi dan membela kebenaran, bahwa aku menjadi saksi atas apa yang benar, aku sungguh-sungguh dalam segala karya dan tindakan. Dengan kata lain, aku sungguh mencintai dan mengikuti Kristus.
    Aku menginginkan ingatan orang terhadapku bagaimana? Sebut dan jelaskanlah.

Melakukan wawancara batin

Mengimajinasikan Kristus yang bergantung di salib atau Bunda Maria dan mendialogkan masing-masing poin tadi.
Mohon berkat atas itu semua dan tinggal dalam kebersamaan dengan Kristus tersalib atau Bunda Maria.
Tutup dengan doa Bapa Kami atau Jiwa Kristus atau Salam Maria.

3. Refleksi (5-15 menit)

Mencatat poin-poin penting dalam proses doa:
(1) perasaan-perasaan sebelum doa, pada saat doa, dan setelah selesai doa
(2) insight yang diperoleh dari doa tadi (baik yang bersifat informatif intelektual maupun spiritual)
(3) niat atau dorongan-dorongan yang muncul setelah doa.

2 replies

  1. Mo.. setelah direfleksi kayanya mode hidup saya hanya survival ngga ada tujuan yang lebih tinggi.. no wonder cepet bosen kadang kehilangan arah dan iseng nakal2.. any solution on that?
    ((Primitif banget yaa))

    Like

    • Solusi cepat pasti gak ada Bu’. Kalau becermin dari hidup Ignasius ya sederhana sih: belajar membedakan perasaan, mana yg autentik, mana yg prinsipnya come and go. Kalau mau praktik meditasi mandiri, sudah diterjemahkan tulisan de Mello berjudul Call to Love (Dipanggil untuk Mencinta), itu bisa membantu orang utk bergerak dari sekadar survival. Salam primitif, hahaha…

      Like