Latihan Doa 18: Sentuhan Tuhan yang Menyembuhkan

1. Persiapan Doa (5-15 menit)

Memilih (baca semua secara sepintas lalu memilih salah satu yang dianggap menyentuh hati), menyiapkan bahan doa:
Yeh 36,22-32 (Dari hati yang keras menjadi hati yang taat)
Mat 9,18-26 (Wanita yang sakit pendarahan 12 tahun)
Mzm 103 (Penyembuhan orang lumpuh)
Luk 7,36-50 (Doa untuk pembebasan)
Mencari tempat doa yang kondusif, menonaktifkan apa saja yang bisa mendistraksi kegiatan doa.
Mengambil posisi yang paling kondusif untuk berdoa (duduk tegak, bersila, telungkup… tapi mungkin posisi ini nantinya membantu orang untuk tidur)

2. Doanya sendiri (20-60 menit)

  • Membaca perlahan-lahan dengan penuh perhatian bahan yang telah ditentukan sebagai bahan doa.
  • Memejamkan mata (atau juga kalau sudah terbiasa dan terlatih fokus dengan pandangan pada satu titik di depan) dan membayangkan dalam mata batin setting yang digambarkan dalam teks bahan doa.

Doa persiapan:

Tuhan Yesus, aku mohon rahmat keberanian dan keterbukaan radikal supaya bisa menghadapi diri penuh dosa ini, termasuk wilayah kerapuhan dan luka, serta mengalami sentuhan lembut-Mu yang menyembuhkan.

Merenungkan pokok-pokok reflektif:

  • Lihatlah wilayah luka diriku, termasuk ketidakbebasanku, atau ketakutan, beban, kemarahan, kesombongan, depresi, rasa tak berpengharapan alias keputusasaan, dan sebagainya…
    Apa yang sekarang ini membuatku cedera? Apa yang membebaniku saat ini? Apa yang memengaruhiku secara negatif? Biarkan semua muncul satu per satu dalam doa dan begitu hal itu muncul, bertahanlah di situ selama aku bisa!
  • Sampaikan dari hati kepada Tuhan soal wilayah luka dan kesulitan-kesulitan itu. Jika sudah semua dilihat, sampaikanlah hal itu untuk disentuh oleh Tuhan: bayangkanlah Tuhan di hadapanku merentangkan tangannya dan dengan lembut menyentuhku untuk menyembuhkan diriku dari segala kesusahan itu. Ambil waktu untuk merasa-rasakan sentuhan yang menghibur dari Tuhan.
  • Ada banyak bagian pengalaman penyembuhan rohani yang disebut closure. Ini bisa diwujudkan dalam hidup orang ketika ia menerima realitas yang ia tolak, ia sangkal; ketika ia membiarkan suatu kenyataan yang selama itu digenggam kuat; ketika ia mengampuni sesama yang telah melukainya (termasuk dirinya sendiri); ketika ia mengucapkan selamat tinggal kepada sesuatu (misalnya tempat) atau seseorang yang dikasihinya.
    Saat ini, adakah kenyataan yang perlu aku terima? Adakah orang atau sesuatu yang perlu kubiarkan pergi? Adakah orang yang perlu aku ampuni? Adakah orang atau hal yang perlu kuucapi goodbye?
    Latihan ini bisa diulangi selama diperlukan.

Melakukan wawancara batin

Mengimajinasikan Kristus yang bergantung di salib atau Bunda Maria dan menyampaikan hal-hal tadi dan mendialogkannya: kenyataan yang perlu kuterima, hal atau orang yang perlu kubiarkan; orang yang perlu kuampuni dan hal atau orang yang perlu kuucapi selamat tinggal; mohon rahmat keberanian untuk perlahan-lahan melakukan closure yang berkualitas yang membebaskan aku dari luka dan beban hidup.
Mohon berkat Allah dan akhiri dengan rasa syukur yang tulus, dengan doa Bapa Kami atau Jiwa Kristus atau Salam Maria.

3. Refleksi (5-15 menit)

Mencatat poin-poin penting dalam proses doa:
(1) perasaan-perasaan sebelum doa, pada saat doa, dan setelah selesai doa
(2) insight yang diperoleh dari doa tadi (baik yang bersifat informatif intelektual maupun spiritual)
(3) niat atau dorongan-dorongan yang muncul setelah doa.

2 replies

  1. Perbuatan kasih yang dimaksud dalam Lukas 7:47 apakah sama dengan kasih yang dijabarkan dalam 1 Korintus 13:4-5 atau lebih ke amal, puasa dan ibadah? Mohon pencerahannya Mo 🙏

    Like

  2. Kalau melihat kata kerja yang dipakai, kiranya Paulus dalam suratnya menjabarkan makna kasih yang juga disinggung dalam Injil Lukas tersebut (yang juga disinggung dalam teks bacaan Injil besok hari Minggu Paska VI).

    Liked by 1 person