Ge eR

Published by

on

Ini bukan pengalaman saya, meskipun saya ceritakan dengan kata ganti orang pertama. Sewaktu saya berkunjung ke sebuah keluarga di sudut kota di Italia utara, saya terperangah mendengar tuan rumah mengatakan punya anak delapan. Bagaimana tidak? Waktu itu saya baca berita bahwa Italia mendekati zero birth-rate karena biaya hidup semakin tinggi. Lha ini kok jebulnya masih ada yang produksi anak sampai delapan gitu ya? Yang bikin saya terperangah lagi, anak pertama dan kedua mereka ini masih balita!

Sewaktu menyantap salad, saya berpikir-pikir bagaimana mungkin ini keluarga punya anak delapan padahal yang paling besar pun belum sampai 4 tahun. Adiknya, makan pun masih disuapi. Apakah mereka mendapat dua kali anak kembar tiga atau kembar enam sekaligus ya?
Sewaktu mengunyah spaghetti al pesto, saya pikir mungkin mereka punya anak-anak adopsi, tetapi sang ibu mengatakan mereka tidak mengadopsi, memang punya anak delapan.
Sewaktu mengiris-iris costoletta alla valdostana, saya benar-benar penasaran mengapa enam adik dari dua balita itu dikatakan sedang di belakang terus; apa ya gak makan gitu ya? Setelah selesai makan, tuan rumah menangkap rasa penasaran saya, lalu mengajak saya untuk melihat enam anak mereka di belakang; melewati dapur, buka pintu, dan terlihat hamparan rumput. Saya cari-cari di mana enam anak itu, tak kelihatan. Sang ibu memanggil nama, saya lupa namanya, tetapi tahu-tahu dari arah samping rumah muncul sosok unyu-unyu. Betul jumlahnya enam.
Woooaaasuuuuuu….

Entah siapa yang Ge eR bin gedhe rasa, saya atau enam anjing yang rupanya diterima sebagai anak tuan rumah itu, tetapi memang ada yang perlu saya pelajari di sini.
Secara manusiawi, jelaslah saya tak terima bahwa kirik-kirik itu diperlakukan seperti anak ketiga sampai anak bontot. Biar bagaimana juga, mereka bukan manusia. Lha itulah. Betul bahwa anjing bukanlah manusia meskipun baik anjing maupun manusia katanya adalah hewan juga. Sesama hewan, apa salahnya memperlakukan anjing (dan hewan-hewan lainnya) sebagai saudara, bukan? Bukankah itu yang dihidupi oleh St. Fransiskus Asisi?

Itu yang rupanya hendak dibongkar oleh Yesus dalam narasi kecil perjumpaannya dengan perempuan kafir. Beliau ini sudah ngelotok dengan keyakinan berjamaah bahwa kafir tetaplah kafir dan mereka tak bisa mendapat berkat atau rida Allah. Tak mengherankan, beliau rupanya diam saja menghadapi teriakan perempuan Kanaan itu. Benar saja, yang bereaksi keras adalah murid-muridnya sendiri, mendesak supaya Yesus mengenyahkan perempuan itu.

Begitulah sebagian orang beragama berpikir: “Betapa indahnya dunia ini kalau tak ada orang kafir.” “Betapa amannya hidup ini kalau di sekeliling kita semua adalah umat seiman.” “Betapa tenangnya kompleks ini jika semua penghuninya beribadah ke anu.” “Betapa mulianya kos ini jika semuanya rajin pendalaman iman,” dan sejenisnya.

Yesus mengikuti alur logika bebal murid-muridnya itu dan bilang ke perempuan kafir itu: sori ya, aku diutus cuma untuk mengembalikan orang-orang Yahudi yang murtad. Ndelalahnya, perempuan kafir itu keukeuh: tolonglah, Tuan, kasihani kami!
Yesus masih mengikuti logika tolol murid-muridnya yang fanatik: “Gak pantaslah ngasih roti yang semestinya untuk anak-anak kepada asu!” dan asemnya ialah si perempuan ini tak berhenti memohon, malah tektokan dengan Yesus tadi: “Itu betul, tapi kan dari roti itu mesti ada remah-remah yang jatuh toh?”

So, rahmat, berkat, anugerah, juga yang dari Tuhan itu kok sepertinya berbau-bau relasional ya. Terkabulnya doa, sedikit banyak juga bergantung dari upaya si pendoa; yang bisa berupa keyakinan, kepercayaan, tetapi juga kreativitasnya untuk memaknai rahmat itu sendiri. Roti, dalam kultur semitik, tampaknya bukan sekadar makanan, melainkan lebih-lebih perkara hidup. Itu berarti, remah-remah kehidupan tidak pernah bisa diklaim oleh siapa pun, termasuk oleh Yesus ini.

Alhasil, kembali ke cerita awal tadi: tidakkah extension itu bukan hak eksklusif sebuah kabel? Bukankah bagaimana tuan rumah memperlakukan enam asu sebagai anak ketiga sampai kedelapan itu seperti perpanjangan kabel itu?
Mengapa para murid Yesus itu tak bisa jadi semacam perpanjangan kabel?

Karena Ge eR, yang ujung-ujungnya jadi fanatik, posesif, picik, bebal, dan seterusnya yang mirip-mirip gitu: Aku adalah orang terpilih, bangsaku adalah bangsa yang terselamatkan, agamaku adalah agama yang paling benar, dan begitu seterusnya.
Seandainya ini ya, andaikanlah itu betul, tak terbantahkan, pertanyaannya ialah: so what?
Jawabannya ya kira-kira “Tak usah Ge eR” itu, karena pun jika Allah memanggil Anda, memilih Anda, menyelamatkan Anda, termasuk agama dan bangsa Anda, maksudnya itu tak lain dari supaya keterpilihan, keselamatan, kebenaran Anda (agama dan bangsa) itu menular atau berdampak sebagai remah-remah kehidupan bagi mereka yang tidak seperti Anda. Bukan supaya mereka semua menjadi seperti Anda. Begitu, kan?

Runyamnya, di dunia ini tampaknya terlalu banyak orang Ge eR yang bikin hidup jadi amburadul. Tak mengherankan, orang-orang Ge eR ini kan jadi mangsa empuk bagi politik(us) busuk pengabdi kekuasaan, lebih dari kemanusiaan. Privilese dimakan sendiri, kesuksesan ditarget, kekayaan dikumpulkan, kejayaan dilanggengkan, untuk dirinya sendiri alih-alih dijadikan modal untuk mengabdi mereka yang tanpa privilese, kesuksesan, kekayaan, dan kejayaan itu.

Tuhan, mohon rahmat ketekunan untuk mewujudkan rahmat-Mu terutama bagi mereka yang tak berdaya. Amin.


HARI MINGGU BIASA XX A/1
20 Agustus 2023

Yes 56,1.6-7
Rm 11,13-15.29-32

Mat 15,21-28

Posting 2017: Tengkyu Kafir

Previous Post
Next Post