Tengkyu Kafir

Pernahkah Anda melihat kelucuan agama yang mengklaim diri diwahyukan bagi seluruh umat manusia? Kelucuannya terletak pada kontras antara klaim dan apa yang senyatanya dibuat oleh (orang-orang yang ber)agama. Mengklaim agama universal, paling benar sejagad, tetapi membatasi diri pada kelompok tertentu saja. Lha ini kan lucu. Kalau memang universal ya berarti tak ada batas demografis dong! Agama itu mesti ditujukan bagi siapa saja yang hidup di dunia ini.

Beda ceritanya dengan Yesus yang tampaknya malah terang-terangan mengatakan dirinya sebagai pewarta untuk orang-orang Israel, bukan bangsa lainnya. Ceritanya Yesus dan rombongannya menyingkir ke daerah kafir, Tirus dan Sidon. Di wilayah itu ada perempuan dari Kanaan yang berteriak-teriak minta tolong kepadanya untuk menyembuhkan anaknya yang kerasukan setan. Apa reaksi Yesus? Diem doang, gak bereaksi. Malah murid-muridnya yang jengah,”Hoeeee, mbok suruhlah perempuan itu pergi daripada terus menerus brisik teriak-teriak gitu!” Yesus malah menjawab,”Aku diutus hanya kepada domba-domba yang hilang dari umat Israel.”

Begitulah, Yesus mengikuti conditioning alias cara berpikir tentang batas pewartaan seperti dihidupi bangsa Yahudi pada zamannya. Akan tetapi, thanks to perempuan Kanaan itu, perjumpaan dengan ‘anjing kecil’ itu memperluas batas yang semula diikuti Yesus.

Gimana ceritanya? Ya itu tadi, setelah ia menegaskan bahwa misinya hanya untuk kaum Israel dan ketika frase “Tuan, tolonglah aku” diserukan perempuan itu, akhirnya Yesus buka mulut. Apa yang keluar dari mulutnya? Sadis: gak pantaslah melemparkan roti untuk anak-anak kepada anjing kecil. Terdengar kasar untuk telinga pembaca sekarang, tetapi waktu itu sudah jadi rahasia umum bahwa orang Israel menganggap orang Kanaan itu kafir. Orang Israel itu seumpama anak pilihan dan bangsa lain yang kafir itu sebagai anjing. Yesus mengumpamakan permintaan perempuan Kanaan itu seperti permintaan anjing-anjing kecil, yang mungkin lebih halus daripada asu tetapi ya hakikatnya sama: anjing.

Hebatnya, sang perempuan Kanaan itu tidak kok merasa tersinggung atau marah atau ngambek karena dianjing-anjingkan. Dia terima conditioning yang dipegang bangsa Israel (bahwa dia tergolong bangsa kafir), tetapi ia tak menyerah dan malah membuka perspektif sempit warta keselamatan. Di balik ngototnya itu tersirat keyakinan bahwa kerahiman Allah mestilah meluas, melampaui batas-batas yang ditentukan manusia sendiri. Ia seolah-olah mengatakan,”Bolehlah kalian mengklaim keselamatan itu teristimewa untuk kalian, tetapi keselamatan itu toh akan tetap menggapai pula semua orang.”

Memang betul, akhirnya Yesus tidak juga ngotot dengan keyakinan akan kesempitan misi kabar gembiranya. Kerajaan surga sebagai pesta takkan dibatasi oleh sekat agama dengan segala labelnya. Sekat itu hancur sendiri manakala orang mendengar teriakan perempuan Kanaan tadi: tolonglah aku. Batas itu lumer ketika belas kasih Allah masuk.

Demikianlah. Di satu pihak, manusia mesti menyadari kondisi dirinya. Di lain pihak, ia merealisasikan kerahiman dan belas kasih Allah. Pada momen dua hal itu berjumpa, tak ada lagi klaim eksklusif agama universal. Agama universal ya universal, tidak malah membuat garis demarkasi untuk menajiskan ini itu. Semakin banyak garis demarkasi yang dibuat, semakin terlihat (orang-orang ber)agama canggung menghadapi kenyataan bahwa being religious is always being interreligious.

Ya Allah, mohon rahmat supaya kami mampu menghidupi belas kasih-Mu. Amin.


HARI MINGGU BIASA XX A/1
20 Agustus 2017

Yes 56,1.6-7
Rm 11,13-15.29-32

Mat 15,21-28

3 replies

    • Saya tidak bisa menjelaskan panjang lebar selain dengan pengertian bahwa pada masa ungkapan itu muncul, Gereja diidentikkan dengan lembaga politik (agama). Padahal, Gereja sebagai kumpulan umat beriman, tentu tak sesempit batas lembaga agama. Jadi, ungkapan itu bisa saja tetap berlaku tetapi definisi Gereja perlu lebih inklusif lagi. Mohon maaf kalau ini tidak mencerahkan. Salam.

      Like

  1. Terima kasih Mo atas pencerahannya. Saya sependapat dengan Romo, definisi “gereja” perlu dipahami ulang lagi, bukan hanya sekedar lembaga. Selain itu “keselamatan” menurut saya juga perlu dipahami ulang, “seperti apakah keselamatan itu?” Sementara kita hidup di dunia ini, siapakah yang dapat memahami makna kehidupan di dunia “seberang”?

    Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s