Demi Anak

Orang jadul boleh saja mengkritik generasi sekarang ini yang tampak punya ketergantungan pada gawai sampai-sampai abai terhadap lingkungan sekitar. Akan tetapi, tuduhan itu sendiri bisa jadi autokritik tajam. Tak jarang orang kehilangan hal yang penting atau substansial untuk mengejar kesenangan yang sifatnya formal belaka. Ambil saja contoh dengan lanjutan bahasan kemarin, soal married married-an itu. Tak jarang orang married, menghasilkan satu atau dua anak; ia atau mereka bekerja untuk menyokong keluarga baru itu. Perlahan-lahan bekerja untuk mengejar impi yang lebih besar lagi, mencoba cari waktu untuk melakukan lebih banyak lagi dan semuanya atas nama keluarga.

Orang bisa kerap berada di depan monitor di kantornya dan tidak berhenti di situ, ia juga bisa kerja di rumah dan sewaktu anak-anak mendekat, ia berusaha menghindar supaya pekerjaannya tak terganggu. Pekerjaan, yang semula adalah sarana untuk menyokong hidup keluarga, menjadi lebih penting daripada hidup keluarga itu sendiri. Di situlah orang perlu bertanya pada diri sendiri: apa sih yang sungguh-sungguh penting dalam hidup ini?

Pekerjaan tentu saja diperlukan, tetapi apakah kepentingannya jadi lebih tinggi daripada anak-anak yang membutuhkan waktu untuk bermain bersama ortu mereka, yang butuh sentuhan, yang butuh kehadiran? Betulkah pekerjaan sungguh-sungguh fundamental? Apa bedanya dengan generasi yang sibuk dengan gawainya sepanjang waktu?

Rupanya, entah generasi jadul dan generasi sekarang ini, orang butuh merealisasikan prioritas seturut kepentingan hidup itu sendiri. Kealpaan dalam realisasi prioritas macam inilah yang juga memberi kontribusi besar dalam ketimpangan sosial masyarakat. Betul bahwa anak-anak butuh rumah tinggal, tetapi apa memang mereka butuh kamar mewah? Betul jendela kaca perlu ditutupi gorden, tapi apa memang diperlukan gorden seharga ratusan juta rupiah? Apakah anak-anak memang membutuhkan peranti canggih yang tinggal mereka dapatkan dari orang tua mereka tanpa jerih payah sedikit pun dan betapa susahnya mereka menemukan waktu kualitatif dengan orang tua?

Saya cenderung menyokong orang tua yang tidak membuat skandal bagi anak-anak, yang tidak menjadikan anak-anak sebagai objek klaim mulia membahagiakan anak-anak dan senyatanya menumpulkan ketajaman anak sendiri dalam berpikir, berkehendak, dan berafeksi. Thumbs up bagi orang tua yang mendampingi anak-anak sedemikian rupa sehingga anak-anak itu bisa happy dengan apapun yang ada pada mereka. Barangkali, itu juga salah satu hal yang bisa jadi tafsir melegakan [atau merepotkan] terhadap ajakan Yesus untuk membiarkan anak-anak datang kepada-Nya, bukan malah jadi skandal bagi mereka.

Ya Tuhan, mohon rahmat kebijaksanaan-Mu supaya kami semakin mengerti apa yang sungguh-sungguh penting dalam hidup kami ini. Amin.


HARI SABTU BIASA XIX A/1
19 Agustus 2017

Yos 24,14-29
Mat 19,13-15

Sabtu Biasa XIX C/2 2016: Minoritas Oh Minoritas
Sabtu Biasa XIX B/1 2015: Gak Ada Anak Haram Kecuali…

Sabtu Biasa XIX A/2 2014: Come Back, Please!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s