Gak Ada Anak Haram Kecuali…

Saya rasa Yesus pun tertawa jika nonton tayangan Stand up Comedy anak-anak ini. Fatih Unru menyinggung bagaimana anak-anak diposisikan. Mungkin begitulah kultur Indonesia: anak-anak tak masuk dalam hitungan orang dewasa, jadi pupuk bawang yang mendapat anugerah toleransi besar-besaran semata karena masih anak-anak. [Padahal, sebetulnya mumpung masih anak-anak, mereka perlu juga diberi anugerah selain toleransi (yang malah bisa jadi kamuflase ketidakpedulian orang terhadap anak-anak): tanggung jawab atas diri sendiri, sekecil apa pun!]

Dalam kultur Yahudi pada masa hidup Yesus rupanya tak ada perlakuan sebagai pupuk bawang itu. Seorang anak pun bisa menanggung kenajisan yang disematkan pada orang dewasa. Gimana sih maksudnya? Saya cuma mau bilang, saya belum ngeh kenapa murid-murid Yesus itu memarahi orang yang membawa anak-anak kepada Yesus. Lha wong cuma mau minta berkat aja kok dilarang? 

Ada kemungkinan anak-anak yang dibawa kepada Yesus itu dalam kondisi najis, entah persisnya bagaimana; mungkin habis digendong orang yang najis, mungkin belum cuci tangan setelah bersentuhan orang yang najis, dan mungkin-mungkin lainnya. Pokoknya anak-anak ini najong (ini istilah tahun berapa ya?). Nah, kalau mereka menyentuh Yesus, Yesusnya jadi ikutan najong. Kalau najong, tidak boleh masuk kota sehingga mesti tinggal di tempat sepi, tak bisa terang-terangan masuk kota (bdk. Mrk 1,45). Itu yang sepertinya tak dikehendaki oleh para murid Yesus. Mereka rupanya melek hukum juga.

Sementara Yesus sendiri malah membiarkan anak-anak, bahkan yang secara hukum dikatakan najis itu, datang kepadanya karena orang-orang seperti merekalah yang empunya kerajaan Surga. Itu sikap Yesus yang secara radikal berbeda dari sikap para muridnya terhadap anak-anak. Ia bersyukur atas kehadiran kelompok orang seperti ini (bdk. Mat 11,25-26); ia membela anak-anak yang berseru menyuarakan pujian (Mat 21,15-16); ia bahkan mengidentifikasi dirinya dengan anak-anak (Mrk 9,37; Mat 25,40). Ia menyambut mereka bukan pertama-tama lantaran gemes terhadap anak unyu-unyu (kalau najis ya gak unyu-unyu). Ia memberkati mereka, menyembuhkan mereka.

Begitulah dua sikap berbeda yang termaktub dalam kisah singkat hari ini. Orang tua dan anak-anak datang kepada Yesus untuk mohon berkat dan penyembuhan. Mereka ngerti bahwa mereka najis; justru karena itu mereka datang kepada Yesus. Para murid berhenti pada hukum kenajisan sehingga cara mereka melihat anak-anak najis itu semata dipenuhi kriteria bersih tak bersih secara hukum.

Jika orang secara jujur datang kepada Allah, besar kemungkinan paradigma kenajisannya luluh. Dalam relasi erat dengan Tuhan, manusia tidak menghakimi manusia lain sebagai orang najis atau haram, tetapi melihat mereka sebagai co-pilgrim. Fokus pada relasi intim dengan Allah jauh lebih penting. Tiap orang punya kenajisan dalam dirinya, jelas; tetapi dalam relasi intim dengan Tuhan, tak ada yang haram. Itu kategori horisontal, kontrak sosial, yang kadang bisa jadi perlu dikoreksi dengan tolok ukur relasi vertikal. Maka, anak haram hanya ada di kepala orang yang paradigmanya horisontal. Di hadapan Allah yang maharahim, entah anak haram atau tidak, semuanya diterima-Nya, disembuhkan-Nya. [Semoga tidak dipelintir sebagai pernyataan permisif bahwa orang bebas melakukan apa yang menajiskan dirinya, sebagaimana ajakan Paus Fransiskus untuk menerima pendosa bisa dipelintir sebagai izin untuk berdosa, heeee…]

Ya Tuhan, semoga aku semakin mampu memandang dunia sebagaimana Engkau memandang dunia. Amin.


HARI SABTU BIASA XIX B/1
15 Agustus 2015

Yos 24,14-29
Mat 19,13-15

Posting Tahun Lalu: Come Back, Please!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s