Bukan Pupuk Bawang

Anak-anak kecil jika dilibatkan dalam permainan bersama anak-anak yang lebih besar biasanya mendapat perkecualian dari aneka aturan permainan yang ketat. Mereka diperlakukan sebagai pupuk bawang (entah dari mana asal ungkapan itu): kesalahan ditolerir, tidak diperhitungkan; yang penting mereka tetap ikut bermain, jadi soda gembira. Di situ kadang orang menganggap diri sebagai bagian dari permainan, padahal senyatanya tidak.

Dalam hidup sehari-hari bisa kita jumpai kenyataan yang mirip seperti itu. Saya bisa ndompleng nama besar geng tempat saya bernaung. Mahasiswa bisa bersembunyi di balik predikat universitas terbaik di kelurahannya. Ada beberapa murid yang pergi ke sekolah tetapi bukan sebagai bagian dari kelas karena mereka justru mengganggu dinamika kelas. Di gereja ada saja orang yang masih berjuang melawan ketidaksenangan merayakan Ekaristi. Dalam keluarga ada juga anak-anak yang pergi pulang seolah-olah rumah adalah kos-kosan. Situasi seperti ini biasanya berujung pada penyisihan: yang satu menolak dialog, yang lain menyisihkan orang yang bermuka masam untuk terlibat dalam aktivitas paroki, yang lainnya lagi berangan-angan menceraikan pasangannya, dan sebagainya. Contoh-contoh ini melukiskan bagaimana orang bisa menghayati iman sebagai pupuk bawang: kelihatannya saja menjalankan imannya, tetapi yang dikomunikasikan, yang disampaikannya kepada publik adalah sesuatu hal yang lain.

Gereja Katolik hari ini memberi perhatian tematik terhadap komunikasi tetapi pasti fokusnya bukan perkembangan media komunikasi, melainkan komunikasi iman dalam dunia dengan media komunikasi canggih ini. Injil Yohanes memandang dunia ini sebagai tempat kejahatan berkuasa, tetapi justru pada dunia itulah Allah memberikan kasih-Nya. Ini berbeda dari kecenderungan manusia untuk menjauhi, menyingkiri dunia yang dianggapnya jahat: orang berpikir tentang balas dendam, sumpah serapah, doa palsu supaya orang lain mendapat celaka, dan sebagainya.

Hidup beriman dewasa dan bertanggung jawab tidak mengejar kenyamanan. Semakin orang mengejar kenyamanan dalam hidup beriman, semakin ia menempa dirinya untuk menjadi pupuk bawang.


MINGGU PASKA VII B/1
Hari Minggu Komunikasi Sedunia
17 Mei 2015

Kis 1,15-17.20a.20c-26
1Yoh 4,11-16
Yoh 17,11b-19

2 replies

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s