Arogansi Pengikut Kristus

Pengikut Kristus itu arogan sudah sejak zaman Yesus sendiri: mengira sudah mengerti segala perkataan Kristus! Dari bacaan Injil hari ini jelas bisa ditarik kesimpulan bahwa mereka tidak benar-benar mengerti poin yang disampaikan Yesus dengan menggunakan aneka metafora. Sekarang, setelah Yesus menegaskan poin yang diulas hari Sabtu lalu (gerak inkarnasi Allah dan kenaikan ke Surga), bisa-bisanya mereka menyimpulkan bahwa Yesus sudah mulai berterus terang tanpa bahasa kiasan yang tak mudah mereka pahami.

Akan tetapi, sebetulnya mereka juga belum mengerti sungguhan implikasi dari poin yang disampaikan Yesus itu. Dengan kata lain, meskipun mereka dekat dengan Yesus, tidak otomatis bisa dikatakan bahwa mereka mengerti segala-galanya. Setelah Yesus menyatakan keindahan hidup bersama Allah Bapa yang diberikan kepadanya dan begitu juga diberikan kepada murid-muridnya, mereka mengira sudah memilikinya. Yesus berbelas kasih kepada mereka dan tidak membiarkan mereka menjadi budak arogansi: sengsaranya menghadapkan para murid pada kecenderungan mereka sendiri untuk lari dari dari kesusahan hidup. Selama masa sengsara itu para murid pun belum menangkap makna aneka penderitaan dalam konteks keselamatan manusia. Sengsara, bahkan kematian, baru mereka pahami setelah peristiwa kebangkitan.

Arogansi pengikut Kristus itu terpelihara sepanjang segala abad karena manusia pada dasarnya cenderung mencari kenyamanan termasuk juga dalam hal pengetahuan iman: mentang-mentang sudah baptis, lalu mengira tak perlu tanggung jawab sosial; mentang-mentang sudah kursus Kitab Suci, lalu menganggap hirarki  merampas Roh Kudus yang bekerja juga dalam diri setiap pengikut Kristus; mentang-mentang daftar teman facebook-nya dipenuhi nama pastor dan suster, lantas mengira dirinya bakal terlindung dari marabahaya (opo hubungane jal?); mentang-mentang memeluk agama yang namanya berbau Kristus, lalu merendahkan orang lain yang beragama primitif atau tak cocok dengan apa yang dipikirkannya.

Celakanya, tak sedikit orang yang justru bangga bergelimangan dosa dengan ungkapan: toh Tuhan pasti mengampuni (lupa bahwa pengampunan berhubungan erat dengan pertobatan dan pertobatan pun terkait dengan kebangkitan). Ya namanya juga arogan, mengklaim terbuka pada Roh Kudus pun belum tentu memang terbuka pada Roh Kudus…

*****

SENIN PASKA VII
18 Mei 2015

Kis 19,1-8
Yoh 16,29-33

Posting Tahun Lalu: Sebetulnya Paham Gak Sih?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s