Pengetahuan Tertinggi

Tiga orang lanjut usia pergi ke dokter untuk memeriksa ingatan mereka (mukjizat bahwa mereka mengingat kesepakatan untuk pergi ke dokter bersama-sama). Dokter mulai bertanya kepada Paimin, “Berapakah delapan kali delapan?” dan Paimin segera menjawab dengan lantang, “Seratus lima puluh enam!”
Sang dokter mengernyitkan dahi dan memanggil Paijo. “Sekarang giliran Anda, Pak Paijo. Delapan dikalikan delapan, berapakah hasilnya?”
Paijo berpikir sejenak lalu menjawab, “Hari Selasa!” Sang dokter menggeleng-gelengkan kepala dan beralih kepada Pailul dengan pertanyaan yang sama. Pailul tanpa pikir panjang menjawab, “Ya jelas enampuluh empatlah!”
Sang dokter mengangguk-angguk, “Hebat!” komentarnya, “Bagaimana Anda memperoleh jawaban yang benar itu?”
Pailul menatap dokter dalam-dalam, “Dokter, itu kan mudah sekali, tinggal bagi saja Hari Selasa dengan seratus limapuluh enam!”

Hidup kekal yang ditunjuk Injil Yohanes hari ini adalah sebuah kualitas hidup, bukan sekadar rentang waktu unending life atau perpanjangan waktu hidup orang. Kualitas hidup seperti apa? Kualitas hidup yang asalnya dari pengenalan akan Allah dan pengenalan akan Kristus; dan pengenalan ini tidak bisa direduksi sebagai pengetahuan otak belaka, yang suatu saat bisa raib dari kepala orang. Ini adalah soal relasi personal dengan Allah dan Kristus (yang hanya dimungkinkan karena Pribadi Roh Kudus).

Kristus, (Χριστός, Christos) dalam Injil Yohanes tidak secara eksklusif dilekatkan pada nama Yesus. Injil ini hanya menyebut Yesus Kristus dua kali: 1,17 dan 17,3. Akan tetapi, dua acuan itu sudah jelas menerangkan fungsi label Kristus: pernyataan dalam Yoh 17,3 memungkinkan kita memahami teks Yoh 1,18, yaitu bahwa Yesus (orang gila dari Nazaret itu), sepenuhnya menyatakan seperti apa Allah itu. Maka, satu-satunya cara untuk memperoleh hidup kekal itu ialah dengan pengetahuan akan Allah yang bisa digapai melalui Kristus (Yoh 14,6). Di sinilah letak perbedaan tulisan Yohanes dari pengaruh Gnostik yang menempatkan pengetahuan sebagai elemen tertinggi hidup manusia.

Bagi Yohanes, pengetahuan sejati tidak melulu intelektual, melainkan relasional. Pengetahuan yang dimaksud Yohanes melibatkan suatu relasi yang dihidupi Yesus dengan Allahnya: Yesus menyelesaikan misi (Yoh 3,17) melalui wafatnya. Artinya, sebelum wafatnya, hidup Yesus benar-benar memuliakan Allah. Maka, kalau sekarang para pengikutnya hendak memuliakan Allah, satu-satunya cara untuk itu ialah dengan memanifestasikan apa saja yang ada pada dirinya demi sebesar-besarnya kepentingan kemanusiaan yang nyata dalam pergumulan hidup bermasyarakat. Kalau kepentingan itu absen dari visi hidup orang, pastinya bukan pemuliaan Allah yang disasarnya. Begitu pula halnya jika orang hanya mengeksploitasi otak tanpa pembinaan kepekaan hati bagi keadilan sosial yang berlaku bagi semua makhluk….


SELASA PASKA VII
19 Mei 2015

Kis 20,17-27
Yoh 17,1-11a

Posting Tahun Lalu: Memuliakan Tuhan, Mangsudnyah?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s