AMDG Itu Apa Sih?

Empat huruf ini sudah mulai mendunia sejak pertengahan abad XVI ketika diperkenalkan oleh Ignatius dari Loyola. Kepanjangannya ialah Ad Maiorem Dei Gloriam (dan biasanya ditambahkan kata inque hominum salutatem). Halah, bahasa hampir punah begitu masih juga dibahas… ya gapapa daripada latah ga ngerti yang dilatahin apa.

Rumusan itu sebetulnya adalah pokok dari Azas dan Dasar: demi semakin besarnya kemuliaan Tuhan dan keselamatan manusia. Manusia diciptakan untuk memuliakan Tuhan dan begitulah ia menyelamatkan jiwanya.

Lha, repotnya, kata Tuhan itu dipakai untuk menunjuk ‘Tuhan’ sebagai sesuatu yang ada “di luar sana” dan terpisah, tak terhubung dengan jiwa manusia sendiri. Akibatnya, manusia cenderung memperlakukan Tuhan sebagai sosok penerima suap untuk berhubungan dengan-Nya: orang mau menyenangkan Tuhan seperti orang mau menyenangkan anak kecil; menjanjikan ini itu, memenuhi kesenangan hati si anak, dan lain sebagainya.

Relasi dengan Tuhan memang dimulai dengan pola seperti itu: menuruti, menaati, mematuhi apa yang diyakini bersama sebagai perintah-Nya. Itu seperti anak kecil yang diajari berdoa akan berposisi sedemikian salehnya sehingga yang mengajarinya pun senang. Seorang calon anggota geng motor akan menambah kepuasan bos geng motor itu jika ia berani merampok pengendara motor di jalan nan ramai. Relawan I S I S tentu menyenangkan bos besarnya jika mereka bisa membunuh semakin banyak musuh. Perbuatan itu memuaskan dan menyenangkan bos-bos. Apakah Tuhan senang dengan itu, God knows.

AMDG tidak menunjuk pada relasi seperti itu. AMDG tidak menyatakan bahwa kemuliaan Tuhan itu bertambah dengan posisi, waktu doa, banyak sedikitnya sedekah, dan sebagainya. Tuhan tetaplah mulia bagaimanapun sepak terjang manusia. AMDG tidak menunjuk pada besar kecilnya kemuliaan Tuhan, melainkan besar kecilnya kemungkinan orang untuk menangkap kemuliaan Tuhan dalam dirinya (juga), dan dengan demikian, besar kecilnya ‘energi’ yang diinvestasikannya dalam kata dan tindakan.

Jadi, orang yang bermotto AMDG mestinya ngerti bahwa kemuliaan Tuhan itu tidak “di luar sana” melainkan “dari dalam sini” yang terwujud dalam kualitas hidup yang senantiasa berkembang: orang sakit yang tidak mengeluh, pengangguran yang tak kenal lelah berjuang, orang sakit terminal yang tidak gentar pada kematian, korban penipuan yang tidak menuntut lebih dari apa yang sewajarnya dia terima, dan masih banyak contoh lainnya.

Singkatnya, AMDG menghubungkan kemuliaan Tuhan dengan kemuliaan hidup manusia sendiri. Maka dari itu, klop dengan ungkapan St. Irenaeus: gloria Dei homo vivens. Semakin orang hidup dari roh, semakin tampaklah kemuliaan Tuhan itu.

Itu tak tampak pada diri orang muda yang lesu, tak bergairah, yang terus menerus egosentris (misalnya mikirin status jomblo/pacaran terus), yang senantiasa mudah tersinggung, yang tak punya inisiatif, yang senang menuntut hak tapi paling sebal memenuhi kewajiban sewajarnya, yang otoriter, yang perfeksionis forever, yang tak bebas, terus menerus takut, dan lain sejenisnya.

9 replies

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s