Ayo Cari Jalan Pulang

Semoga Anda ingat film keren berjudul Patch Adams: dokter yang membuka Gesundheit Hospital, praktik medis dengan pendekatan kekeluargaan di West Virginia, tanpa menarik bayaran, tanpa asuransi malpraktik atau fasilitas-fasilitas formal lainnya. Ada ribuan ahli medis yang mau meninggalkan praktik medis mereka dan bergabung dalam proyek Patch Adams ini. Eksposisi film di awal menggambarkan seluruh isi film. Begini bunyinya:
All of life is a coming home.
Salesmen, secretaries, coal miners, beekeepers, swordswallowers, all of us, all the restless hearts of the world, all trying to find a way home….
How small you can feel. How far away how can be.
Home.
The dictionary defines it as both ‘a place of origin’ and ‘a goal or destination’.
And the storm? The storm was all in my mind.
Or, as the poet Dante put it,
in the middle of journey of my life I found myself in a dark wood, for I have lost the right path. 

The right path Patch Adams justru ditemukannya di tempat yang tak diduga-duga: rumah sakit jiwa. Patch Adams mengerti pentingnya perjumpaan pribadi demi peningkatan kualitas hidup. Di balik sikap urakan Patch Adams, ada paradigma yang brilian mengenai teknik treatment terhadap orang sakit dan bahkan juga paradigma mengenai kematian. Paradigma ini tak mudah ditangkap para ahli medis dalam film itu, sebagaimana kata-kata Yesus disalahpahami oleh orang-orang Yahudi: jika kamu tidak makan daging Anak Manusia dan minum darah-Nya, kamu tak punya hidup dalam dirimu. Barangsiapa makan daging-Ku dan minum darah-Ku, ia mempunyai hidup yang kekal dan Aku akan membangkitkan dia pada akhir zaman (Yoh 6,53-54). Orang Yahudi menangkapnya sebagai indikasi kanibalisme, tetapi studi detail terhadap tulisan Yohanes menegaskan bahwa pernyataan itu paralel dengan Yoh 6,40 sehingga “makan daging dan minum darah” itu berarti “melihat dan percaya”.

Saat pertama kali menonton video Patch Adams, saya sungguh berpikir bahwa coming home itu adalah soal pulang ke rumah sungguhan, karena definisi kata home pun ditampilkan dengan imaji rumah. Akan tetapi pelan-pelan mengertilah saya bahwa film ini bicara soal rumah abadi: tempat asal dan tujuan hidup manusia semuanya. Meskipun demikian, orang toh bebas menyangkal kebenaran itu. Patch Adams adalah sosok terbuka, yang tak hendak melarikan diri dari the right path: membangun dunia supaya kemuliaan Tuhan semakin nyata.

Keterbukaan itulah yang tak dipunyai orang Yahudi yang menangkap pernyataan Yesus sebagai kanibalisme. Mereka tak mau mengakui adanya kerinduan yang jauh lebih dalam di lubuk hati, kelaparan yang lebih ganas daripada karena tiada nasi: cinta, kebahagiaan kekal. Tentu kemunafikan itu tak hanya menimpa orang Yahudi. Masih akan terjadi sepanjang segala abad sebelum kiamat. Dengan terang ini, kita tahu bahwa aneka kejahatan ialah pelarian diri dari kebenaran. Kekejaman orang ‘hanyalah’ kegagalannya untuk tidak menjadi munafik. Kemunafikan itu tak hanya berwajah tunggal, bisa juga terlembagakan: entah sampai kapan negeri ini memakai topeng kemunafikan dalam wujud hukuman mati. Banyak doa untuk Mary Jane dkk, yang menjadi korban kemunafikan lembaga hukum nan korup! Semoga jalan pulang Anda sekalian diwarnai oleh aneka penghiburan atau bahkan kejutan menggembirakan dari Allah sendiri.


JUMAT PASKA III
24 April 2015

Kis 9,1-20
Yoh 6,52-59

Posting Tahun Lalu: Pertobatan Ananias dan Saulus

1 reply

  1. Rom, diperlukan kejerihan untuk dapat “melihat”. Mungkin yang sukar itu mendapatkan “kejernihan dalam melihat”. Dengan melihat, otomatis tindakan mengikuti. Bagaimana pendapat Romo? Salam.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s