Pertobatan Ananias dan Saulus

Dulu tokoh-tokoh Gereja Katolik secara sengit bertengkar dengan pentolan reformasi Protestan (Luther, Zwingli, Kalvin) karena perbedaan tafsir terhadap Kitab Suci. Tentu, alasan sebenarnya bukan beda tafsir itu. Hidup pejabat Gereja (Katolik) tidak karuan, sudah sedemikian terkontaminasi oleh aneka kepentingan politis sehingga praktik keagamaan menyeleweng dari maksud pendirinya. Tokoh-tokoh reformasi Protestan yang melek Kitab Suci itu melihat problemnya dan wajarlah kalau mereka tidak suka dengan arogansi pejabat institusi Gereja Katolik saat itu yang tidak mau melihat penyelewengan hidup menggereja. [Orang bisa bertengkar dengan aneka argumentasi yang sangat rasional, padahal penyebab pokoknya ialah orang yang satu tidak senang dengan perkataan dan perbuatan orang lain]

Orang-orang Yahudi bertengkar mengenai “roti hidup” tapi pokok pertengkaran mereka sebetulnya bukan “roti hidup”-nya itu sendiri, melainkan sikap mereka terhadap Yesus. Mereka berpikir terlalu letterleijk sehingga gak bisa memahami maksud Tubuh dan Darah Kristus selain kanibalisme. Tidak mengherankan jika tafsir terhadap “roti hidup” ini juga dipersoalkan di kemudian hari dan kelompok reformasi Protestan memisahkan diri dari Gereja Katolik. [Umat sekarang mungkin pernah mendengar ajaran mengenai transubstansiasi tapi gak akan deh mau sungguh-sungguh mempelajarinya kecuali ia mau jadi pastor atau pendeta] Pokok persoalannya sebetulnya sederhana: kelompok Protestan tidak mau menerima kelemahan manusiawi lembaga Gereja pada saat itu. Apa kelemahan itu? Ya hidup para uskup dan bahkan paus yang membuat hidup Gereja jadi gak karuan. Kelompok Protestan juga kemudian tidak menerima tradisi para rasul yang dihidupi lembaga Gereja Katolik. Pertengkaran dua pihak mestinya menjadi alasan pertobatan kedua belah pihak…


Pertanyaan Kristus terhadap Saulus di jalan menuju Damaskus jelas menunjukkan hubungan antara Kristus dan pengikut-Nya sebagai Gereja yang terus hidup: mengapa engkau menganiaya Aku? Saulus jelas tidak menganiaya Yesus! Ia hanya melihat Stefanus dirajam sampai mati dan kemudian ia mengejar dan menganiaya pengikut-pengikut Yesus yang lainnya. Bagaimana Kristus mengklaim bahwa Saulus menganiaya diri-Nya? Ini adalah indikasi bahwa Kristus punya relasi yang sedemikian eksistensial dengan pengikut-Nya.

Ada dua tokoh yang berelasi dengan Kristus dalam cerita Damaskus itu: Ananias dan Saulus. Ananias adalah murid Kristus yang menjadi target penganiayaan Saulus di Damaskus. Atas inisiatif Kristus sendiri Saulus dipertobatkan dan untuk itu Ananias pun mesti bertobat: ia mengambil risiko bahwa Saulus, setelah sembuh dari kebutaannya, bakal menangkap dan memenjarakannya. Akan tetapi, karena kepercayaan kepada janji Kristus, Ananias masuk dalam lingkaran pertobatan: ia masuk, terlibat dalam proyek keselamatan Kristus itu sendiri.

Lha kan, dalam masa Paska ternyata ya ada unsur pertobatan. Orang bisa melihat perspektif pertobatan yang dihayatinya: pertobatan Saulus, atau pertobatan Ananias. Pertobatan Saulus ditandai dengan pembaptisannya, pertobatan Ananias terwujud dengan keterlibatannya dalam proyek keselamatan: ia mengampuni Saulus, memberkatinya, menyerahkan hidupnya kepada penyelenggaraan ilahi sementara aktif menolong sesamanya…


JUMAT PASKA III

Kis 9,1-20
Saul, Saul, mengapa engkau menganiaya Aku
Yoh 6,52-59
Orang-orang Yahudi bertengkar atara sesama mereka dan berkata,”Bagaimana Ia ini dapat memberikan daging-Nya kepada kita untuk dimakan?”

1 reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s