Revolusi Mental, Revolusi Kultural?

Dari film Son of God tidak saya peroleh jawaban apa yang dikejar oleh tokoh utama Son of God selain frase to change the world. Tidak jelas dunia apa yang diubah. Tidak saya lihat kontras antara dunia sebelum kematian Kristus dan setelah kebangkitan. Hanya divisualisasikan pembaptisan Paulus dan Kornelius. Bacaan pertama hari ini mengisahkan pembaptisan sida-sida (orang yang dikebiri?) asisten Sri Kandake, Ratu Etiopia. Tidak dikisahkan apa yang dibuat sida-sida itu setelah dibaptis Filipus. Bisa jadi ia tetap menjadi kepala bendahara kerajaan dan pastinya ia tetap menjadi eunuch.

Lha, kalo perubahannya cuma terletak pada pembaptisan, apa artinya misi to change the world tadi? Dunia masih sama saja: di mana-mana ada kekerasan, ketidakadilan, pemerkosaan, sodomi, korupsi, rebutan kuasa, bebal terhadap penderitaan rakyat dan sebagainya!!! Mau berapapun jumlah baptisan, dunia tidak menjadi semakin lebih baik. Artinya, entah agama Kristen jadi mayoritas atau minoritas, ia tidak melenyapkan kejahatan atau penderitaan manusia. Agama tak menjamin perbaikan hidup masyarakat, bahkan cenderung menghambat peningkatan kualitas hidup orang karena agama punya institutional lag. Lembaga agama cenderung lamban menanggapi perubahan masyarakat karena kecenderungan konservatifnya. Lalu, mending gak usah berafiliasi pada agama supaya lebih tangkas terlibat dalam perubahan masyarakat, bukan?

Sik3, Brow! Memang betul agama punya kecenderungan lamban, seperti institusi lainnya juga. Akan tetapi, apa yang membuat lamban? Sikap dan mental orang-orang di dalamnya, yang menganggap institusi, seragam, korps adalah segala-galanya! Ini adalah soal relasi antarpribadi dalam lembaga itu yang silau akan aneka jenis “roti” yang potensial mereka dapatkan! Konkretnya: sekretariat tak mau melayani baptisan anak yang orang tuanya tidak punya surat kawin karena takut dimarahi pastor parokinya dan pastor parokinya gak mau tanggung risiko ditegur uskup. Polisi cari-cari kesalahan pengendara supaya dapat uang banyak karena anaknya meminta motor dan toh pengendaranya pasti juga gak mau repot ke pengadilan! Tak sedikit orang bermental konsumtif, kalau tidak bisa disebut predator.

Problemnya bukan institusi, melainkan orang-orangnya; bukan rumah sakit yang butuh biaya tinggi, melainkan komisarisnya, pemilik sahamnya, dokternya, perawatnya, apotekernya yang berhati korup. Orang tidak melihat “roti” jenis lain, “roti hidup”. Dibutuhkan revolusi mental radikal.

Sayangnya, sampai di sini orang biasanya melihat solusi hanya dalam level individual. Revolusi mental memang bisa saja dimulai dengan kesalehan pribadi (orang yang begini ini umumnya malah bisa jatuh ke aneka program pembenahan individualistik dan jadi sasaran empuk untuk aneka bisnis spiritual: kamu bayar, nanti saya kasih kata-kata bijak). Akan tetapi, revolusi mental itu gak bakal jadi gerakan atau revolusi kultural jika hanya berhenti pada kesucian pribadi. Revolusi kultural mengandaikan perubahan sikap bersama terhadap kehidupan: sesama, Tuhan, alam.

Memang sih, dibutuhkan juga rahmat, tapi ini tidak sama dengan individualistik. Revolusi kultural mengandaikan ada perubahan mendasar dari dalam hati orang yang terus merasuk ke dalam  institusi tempat ia mengungkapkan jati dirinya: PNS yang punya dedikasi tinggi, yang sikap dasarnya terhadap masyarakat justru merendah (karena dia adalah abdi masyarakat), polisi yang membantu mengatur lalu lintas dan bukannya malah menciptakan jebakan, direktur perusahaan yang apresiatif terhadap bawahan dan bawahan yang punya komitmen memajukan perusahaan, pemerhati lingkungan yang menuangkan upayanya untuk membangun sebuah civil society….

KAMIS PASKA III

Kis 8,26-40
Yoh 6,44-51

2 replies

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s