Awas Kekuatan Gelap!

Dalam ilmu fisika, ada ruang untuk memercayai anomali. Bisa jadi orang heran terhadap anomali [misalnya ada spot di bumi yang hukum gravitasinya beda dari hampir seluruh tempat di bumi], tetapi gak percaya sama bukti itu berarti orang gak waras lagi mikirnya. Lha, iman rupanya tidak punya dasar pemikiran seperti anomali hukum fisika itu tadi: tidak secara otomatis orang melihat lalu percaya begitu saja; non sequitur….Ini yang rupanya disinyalir oleh Kristus, hal yang lebih parah dari ketidakpercayaan Tomas.

Tomas baru mau percaya kalau ada bukti! Ini bisa dimaklumi. Ia mau menerapkan hukum fisika untuk perkara yang ada di luar jangkauan fisika, justru karena akal sehatnya dilandaskan pada perkara-perkara yang kasat mata. Wajarlah ia berpikir seperti itu. Meskipun pikiran seperti itu tidak lurus, toh masih bisa diperbaiki. Bagaimana memperbaikinya? Ya dengan fakta yang bisa menjadi bukti. Bukti ini yang bisa mengubah cara berpikir atau bahkan sistem kepercayaan seseorang. Kristus sendiri memberi bukti yang dibutuhkan Tomas, dan Tomas percaya karena pembuktian itu.

Parahnya, masih ada orang-orang yang tetap gak percaya bahkan meskipun di depan matanya terpapar bukti yang nyata. Mengapa bisa begitu? Karena mereka termakan propaganda yang menjamin status quo mereka! Sebetulnya Stefanus (yang telah dibunuh di hadapan Saulus) dan Filipus juga sama-sama melakukan propaganda (bahwa Yesus telah bangkit). Akan tetapi, propaganda mereka justru memporakporandakan status quo mereka: mereka bahkan terancam kehilangan nyawa.

Dari mana datangnya ancaman itu? Dari kubu yang memerlukan jaminan status quo!
Bagaimana kubu itu mengancam propaganda Stefanus dan Filipus? Dengan penganiayaan, penjara, dan black campaign bahwa propaganda murid-murid Kristus itu sesat! (Kelak dalam sejarah, metode ini juga rupanya diterapkan oleh institusi Gereja Katolik sendiri: mereka ‘membunuh’ gerak roh yang muncul lewat tokoh-tokoh pembaharu Gereja)

Sekurang-kurangnya dua hal itu pantas diwaspadai: propaganda yang (1) hidden agenda-nya pelanggengan status quo rupanya akan (2) memakai macam-macam metode yang mencakup black campaign juga. Propaganda yang dibuat Yesus dan murid-murid tidak memuat dua hal itu. Ia bicara terang-terangan mengenai Kerajaan Allah (dan bukan untuk menobatkan diri sebagai pemimpin agama: hanya satu gurumu, hanya Bapamu yang di surga yang baik, Aku telah turun dari surga bukan untuk melakukan kehendakku, tetapi kehendak Dia yang telah mengutusku) dan tidak sibuk dengan keburukan pihak lain untuk menarik orang kepada propagandanya. Ia mempropagandakan visi misinya, bukan kelemahan kelompok lain, agama lain, suku lain, dan sebagainya.

Jadi, mungkin memang gak ada calon pemimpin bangsa ini yang terbebas dari kepentingan-diri sama sekali. Akan tetapi, sekurang-kurangnya orang bisa melihat kepentingan-diri yang dipertahankan itu berkenaan dengan status quo dari kekuasaan politik-ekonomi pribadi/keluarga/kelompoknya atau tidak. Orang juga bisa melihat cara-cara calon pemimpin melakukan propagandanya, gencar dengan black campaign, manipulatif atau tidak.

Semakin orang menumpuk hidden agenda, semakin orang punya kepentingan pelanggengan statusnya, semakin orang berupaya menggunakan black campaign, semakin jelaslah indikasi bahwa propaganda yang dibuatnya dimotori oleh kekuatan gelap. Seturut pedoman pembedaan roh, kekuatan seperti ini, betapapun manis suaranya dan santun penampakannya, adalah kekuatan roh jahat sendiri; dan jika orang memilih kekuatan seperti ini, ia tentu tidak mengenyam hidup yang kekal..

So…?


RABU PASKA III
7 Mei 2014

Kis 8,1b-8
Yoh 6,35-40

1 reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s