Broken, Bright Life

Ini pengalaman lain sewaktu kami berjalan menggelandang tanpa bekal sejauh kurang lebih 400 km dan sungguh-sungguh hanya meminta makan minum sepanjang perjalanan. Kami tidak meminta uang, baik rupiah maupun dollar. Hari panas terik, seterik-teriknya, dan persediaan air ‘putih’ di botol soft-drink kami sudah lama habis. Kerongkongan terasa sangat kering sehingga kalau saja di depan kami ada botol berisi beberapa tetes air pun akan kami ambil untuk diminum. Wong namanya ngemis, gak ada pikiran tentang hygiene. Pokoknya ada benda cair, sikat aja bleh…

Mungkin tampang kami memang dari jauh kelihatan memelas sehingga di seberang jalan seseorang di warung berteriak memanggil kami. Karena hari itu giliran saya untuk mengambil keputusan, saya menyeberang jalan dan menghampiri orang di warung itu, rupanya pemilik warung. Abdi teu tiasa berbahasa Sunda nanging abdi mah teurang maksad eta padagang nyauran urang: ia mengundang kami untuk istirahat dan minum di situ. Beberapa orang yang duduk-duduk di situ tampaknya adalah orang setempat yang sedang bercengkerama dan melihat saya dengan tatapan gimanaaaa gitu. Saya sendiri ya gak gimana-gimana wong teu aya mojang geulis na!

Hanya saja, melihat di situ ada es buah… aduh mak, kerongkongan itu rasanya semakin lengket dan tak ada lagi ludah yang bisa saya telan. Betapa mulianya penjual ini menawari kami minum (padahal sebetulnya saya juga mau minta makan sekalian)! Ia bertanya mau minum apa, berapa gelas, dan saya segera alert bahwa orang ini tidak semulia kelihatannya. Saya bilang saya gak punya uang, dan penjual itu cuma melongo, batal menyediakan minum. Saya tidak kecewa atau jengkel padanya meskipun, saya pikir, tak lazimlah orang punya warung di desa seperti itu berteriak-teriak memanggil orang lewat untuk membeli dagangannya. [Lain soal kalau lokasinya di Borobudur, misalnya]

Rasa kering kerongkongan tak terobati, kelaparan menjadi-jadi, tapi hati serasa semadi: barangsiapa datang kepada-Ku, ia tidak akan lapar lagi, dan barangsiapa percaya kepada-Ku, ia tidak akan haus lagi. Halah, gimana sih, jelas haus dan lapar menjadi-jadi gitu kok! Kata ‘datang’ dan ‘percaya’ di situ sepadan: memberi respon positif terhadap Sang Terang Sabda. Respon positif itu munculnya bukan dari tendensi material badaniah, tetapi dari sikap hati nan penuh iman: hidup yang lebih langgeng dan utuh itu bukan hidup yang semuanya direservasi untuk (kelompok) diri sendiri, melainkan sebaliknya, hidup yang semua diserahkan bagi Yang Lain. Itulah gaung roti kehidupan dalam Ekaristi: dipecah-pecah dan dibagi-bagikan.


RABU PASKA III
22 April 2015

Kis 8,1b-8
Yoh 6,35-40

Posting Tahun Lalu: Awas Kekuatan Gelap