Perjumpaanku dengan Muslim (1)

Saya belum pernah jatuh miskin (karena dari dulu miskin) tetapi sekali waktu saya mesti meminta-minta makan dari rumah ke rumah. Saya tidak minta uang untuk membeli makan, benar-benar hanya meminta makan supaya punya tenaga untuk berjalan jauh. Pengalaman mengemis sepanjang jalan sejauh 400 km dalam kurun waktu sepuluh hari ini sangat kaya perjumpaan.

Salah satu perjumpaan yang mengesan ialah ketika di suatu sore saya sudah terlalu lapar karena siang hari tak berhasil mendapat makan. Dari jalan saya lihat ada rumah yang pintunya terbuka lebar dan ketika saya masuk dan mendekat ke pintu, tahulah saya bahwa ada salib terpasang pada dinding. Sepintas saya lihat salib itu tampak bercorpus (baca: korpus, patung Yesus yang tersalib); berarti penghuninya, sekurang-kurangnya ada bau-bau Katolik. Saya sendiri tak pernah mengaku-ngaku Katolik ketika mengemis (lha wong maksudnya minta makan kok pakai ngaku Katolik, buat apa coba!), tetapi memang sejujurnya saya punya harapan bahwa pemilik rumah ini akan memberi saya makan.

Dari dalam terdengar alunan musik natal (24 Desember, kalau tak salah ingat) agak keras dan saya pun mengetuk pintu agak keras sambil setengah berteriak memanggil penghuni rumah. Setelah sekian lama menunggu, muncullah seorang ibu yang kelihatannya sedang repot. Tanpa basa-basi saya langsung mengatakan maksud saya untuk meminta makan. Dengan basa-basi ibu itu mengatakan bahwa mereka sedang repot menyiapkan pesta pada malam itu. Hmmm… masuk akal. Mungkin malam Natal ini mereka rayakan dengan pesta itu.

Akan tetapi, saya terheran-heran. Bukankah mereka justru punya banyak makanan untuk pesta? Apa susahnya sih menyisihkan makan untuk pengemis seperti saya? Lha, wong ngemis kok berargumentasi, hahaha. Tapi itu tak saya katakan; begitu ibu itu minta maaf, saya hanya mengangguk menahan lapar, tidak berusaha mengerti penjelasannya. Saya keluar dari pekarangannya dan ketika saya menoleh ke sebelah rumah orang Katolik ini, saya lihat ada seorang ibu dengan anak putrinya sedang duduk di serambi rumah. Keduanya berjilbab.

Saya bergegas masuk ke halaman rumah dan mendekati ibu itu, yang sudah berdiri untuk menerima saya. Dengan sopan menahan lapar saya berterus terang minta makan karena sejak pagi belum mendapat makan.

Saya malah merasa bersalah karena melihat ibu itu raut mukanya berubah dari penuh senyum menjadi seperti orang yang hati nuraninya dikejar-kejar rasa bersalah. “Aduh, Mas, maaf sekali. Ini kami baru saja selesai makan. Kami punya nasi tapi tinggal sedikit sekali dan tidak ada lauk. Aduh…”

Sebenarnya saya agak kecewa juga bercampur menyesal karena tidak datang lebih cepat. [Hahaha… dasar pengemis, pikir perut sendiri terus!] Saya mengucapkan terima kasih dan mohon diri meneruskan perjalanan dan ibu itu tampak sedih dan kasihan melihat saya (berarti memang tampang saya benar-benar melas waktu itu; saya cuma ingat bahwa saya sudah lapar sekali, tak ingat seperti apa wajah saya). Tetapi sebelum saya sampai di tepi jalan, ibu itu mendekati saya dan berkata, “Mas, duduk saja dulu. Biar anak saya belikan makanan di warung.”

Rasa senang saya jauh lebih kecil daripada keterharuan saya karena ketulusan hati ibu itu. Ia bisa saja memberi saya uang, tapi ia membelikan makan! Saya tak menolak dan kami masuk ke rumah, ngobrol, bahkan saat saya makan pun mereka hadir menemani saya.

8 replies

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s