Pastor Tukang Bikin Misa

Sewaktu masih sebagai frater saya pernah menerima telpon dari mahasiswi yang bertanya apakah saya bisa bikin misa. Ya saya jawab tidak bisa sembari dalam hati heran bukan main: ini mahasiswi Katolik mosok ya gak tahu bahwa frater belum bisa memimpin Perayaan Ekaristi. Lalu saya usulkan supaya dia menghubungi kembali romo yang tinggal di rumah kami dan ia bertanya lagi,”Kalo’ Romo A itu, bisa bikin misa?”
Agak kemropok alias jengkel tapi bercanda saya jawab keras-keras,”Ya bisalah, namanya pastor, itu kan tukang bikin misa!”

Bikin misa, itu kiranya ungkapan Jakarta. Dibubuhi kata ‘tukang’ untuk menunjukkan profesi. [Kalau perlu, terhadap pastor yang hobinya cari uang dengan ‘memimpin misa’ bisa sekalian disebut tukang jualan misa!] Bahasa Jawa kelihatannya lebih halus di kuping: ngunjukke misa, tetapi saya juga tak mengerti apa bedanya dengan ngunjukke kathok. Pokoknya, dalam Gereja Katolik, memang hanya imam/pastor/romo/pater yang diterima sebagai petugas sah untuk memimpin perayaan Ekaristi.

Setelah sekarang ini bisa secara sah memimpin misa, mengertilah saya kompleksitas tukang bikin misa itu. Saya mendengar bagaimana umat mengeluh karena pastornya sangat susah diminta misa di rumah keluarga yang bukan orang kaya dan begitu antusias melayani permintaan misa di perumahan elit, atau di hotel ini inu. Ada juga yang mencak-mencak karena pastornya membuat tarif stipendium (honor) untuk misa; belum lagi kalau disinggung soal kualitas kotbahnya. Di lain pihak, pastornya pun bisa merasa umatnya begitu lebay karena untuk apa saja orang meminta misa, mulai dari pemberkatan rumah sampai pemakaman jenasah. Mentang-mentang Ekaristi adalah sumber dan puncak hidup umat beriman, kok lalu untuk aneka intensi orang meminta si tukang bikin misa. Kalau cuma ibadat itu rasanya kurang afdol.

Akan tetapi, saya kira justru di situlah letak lubang besar penghayatan iman umat Katolik: menjadi pastorsentris dan misasentris. Afdol tidaknya penghayatan iman ditentukan oleh misa dan tukangnya. Bener kata tetangga saya: kalau dua atau tiga orang berkumpul dalam nama Kristus, Kristus kan hadir di situ; dan padahal, apa sih yang mau dikejar orang beriman kristiani kalau bukan perjumpaan dengan Kristus yang hadir itu? Bukankah saat umat lingkungan berdoa bersama meskipun tak ada pastor, Kristus hadir di situ? Bukankah saat umat lingkungan membaca Kitab Suci dan mendalaminya bersama, di situ juga Kristus hadir? Jadi, kenapa orang Katolik tergila-gila dengan yang namanya misa dan kalau ‘hanya’ ibadat sabda lantas sepi?

Jangan-jangan misa ini itu adalah kelebayan dari kemalasan untuk berpikir, untuk merefleksikan iman yang berpijak pada Sabda. Jangan-jangan, dengan begitu, misa itu malah jadi komoditi dan proyek (apalagi misa besar, bisa jadi ajang jarahan uang umat sendiri atau sponsor)! Jangan-jangan sebagian besar umat adalah bebek-bebek yang pejah gesang ndherek Romo tetapi hanya untuk diam-diam mengatakan,”Terserah apa kata pastor dah!” dan tak peduli atau tanggung jawab pada imannya sendiri. Ngeri deh kalau sampai begitu… Ya kalau pastornya lagi waras, hahaha…… Pastor kan manusia juga. Bisa diajak dialog mestinya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s