Tanda Tangan Allah

Jika Anda suka menonton kotbah atau puji-pujian komplet dengan penyembuhan via sentuhan jari pada layar televisi, mohon tidak melanjutkan membaca posting ini karena isinya pasti akan menusuk hati Anda. Kalau Anda meneruskan membaca dan tidak merasa tertusuk hatinya, barangkali perlu diumumkan berita duka atas kematian suara hati Anda dengan RIP: Rest in Pain… Sebagai pembanding, anggota Mahkamah Agama yang ikut menghukum mati Yesus, ketika diingatkan oleh Stefanus, hati mereka tertusuk.

Teks Injil Yohanes yang dibacakan hari-hari ini membuat saya semakin menghargai Ekaristi, sambil senantiasa mengingat inspirasi dari cerpen klasik Haji Ali Akbar Navis: Robohnya Surau Kami. Apa hubungannya? Mari review kisah setelah penggandaan roti di Tiberias: ribuan orang kenyang, lalu mau maksa Yesus supaya jadi pemimpin, Yesusnya gak mau, menyingkir, para muridnya pun punya reaksi kekecewaan dan menyeberang ke Kapernaum; sebagian orang yang kenyang roti mukjizat itu juga menyeberang ke Kapernaum dan setibanya di sana terheran-heranlah mereka wong Yesus gak naik perahu sama murid-muridnya kok ya ternyata sudah ada di Kapernaum (mosok renang?). Mereka gabung dengan orang-orang yang sudah berkumpul di sekitar Yesus dan bertanyalah mereka dalam kekaguman kapan dia tiba di situ.

Yesus ngerti arah pertanyaan itu dan memberi nasihat seperti diulas dalam komentar kemarin: poinnya bukan ‘mekanisme perbuatannya’ melainkan kepercayaan iman (kepada Kristus, yang tidak identik dengan agama Kristen) yang melandasi tindakan kerja. Singkatnya, yang bermakna ialah suatu tindakan iman, bukan sembarang aktivitas.

Nah, karena di situ juga ada orang yang tak menyaksikan penggandaan roti tetapi mendengar kasak-kusuk tentang mukjizat itu, mereka meminta tanda supaya percaya bahwa Yesus memang utusan Allah yang lebih daripada Musa. Oalah, Gusti nyuwun sabar. Setelah Yesus menjelaskan supaya mereka lebih fokus pada roti yang mengenyangkan jiwa lebih daripada roti yang mengenyangkan perut (yaitu percaya kepada Yesus sebagai utusan Allah), lha kok mereka balik lagi ke tanda heboh. Memang sih ada keterangan lain: mereka ingat ‘manna’ (roti dari langit) berlimpah ruah pada zaman Musa. Maka, mereka mendesak untuk mendapat tanda yang lebih besar daripada tanda yang dimiliki Musa. Kalau gak ada, ya berarti tak ada yang lebih besar dari tanda yang dimiliki Musa.

Yesus mengingatkan mereka bahwa roti yang diterima nenek moyang mereka itu bukan dari Musa, melainkan dari Allah yang ‘mengutus’ roti material bernama ‘manna’ itu. Lha sekarang ini yang diutus adalah roti yang sesungguhnya: ‘roti’ dengan roh yang mewujud dalam pribadi manusia.

Njuk apa hubungannya dengan acara tivi tadi, Ekaristi, dan Robohnya Surau Kami? Insight cerpen A.A. Navislah yang menghubungkannya. Bagaimana? Cerpen itu menyodorkan kesucian yang mendapat rida Allah, yaitu kesucian yang dihayati dalam persekutuan, bukan kesucian narcisistik. Kegandrungan pada aneka penyembuhan mengindikasikan orientasi orang untuk meminta tanda atau keselamatan diri sendiri yang dalam tradisi Gereja Katolik dicounter dengan tindakan iman dalam Ekaristi: dalam kebersamaan dan buahnya juga nyrempet-nyrempet wilayah moral dan tanggung jawab sosial. Maka tersesatlah orang merayakan Ekaristi untuk penyucian diri sendiri. Tanda tangan Allah jenis ini senantiasa ada dalam persekutuan.


SELASA PASKA III
21 April 2015

Kis 7,51-8,1a
Yoh 6,30-35

Posting Tahun Lalu: Weak But Strong

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s