Misa Itu Penting Gak Sih?

Bacaan Injil hari ini (yang sudah dibacakan pada misa sore Minggu Paska lalu) bisa menjelaskan kembali kamera selfie yang digunakan Kristus. Kisahnya sudah sangat terkenal: dua murid yang frustrasi berjalan ke Emmaus dan dalam perjalanan mereka dibarengi sosok Yesus yang bangkit, tetapi mereka baru sadar belakangan setelah Yesus memecahkan roti.

Tulisan Lukas itu sendiri dibuat pada sekitar tahun 80-an, setelah Yerusalem dihancurkan kekaisaran Romawi karena pemberontakan mereka sebelumnya. Umat kristen sendiri masih mengalami ‘kelelahan’ setelah melewati masa penganiayaan zaman Nero. Masa sulit sejak tahun 60-an itu kiranya mengundang tanya bagaimana mereka bisa menimba kekuatan iman. Lukas memberikan alternatif jawaban dengan narasi murid dari Emmaus ini.

Ada empat pokok yang kiranya baik dipertimbangkan. Yang pertama ialah bahwa Yesus bertanya kepada dua murid itu, bukan pertama-tama demi informasi yang diinginkannya, melainkan demi dua murid itu: supaya mereka melihat realitasnya sendiri (bdk. sosok ibu yang menanyai anaknya yang menangis kemarin). Orang perlu melihat duduk persoalannya secara lebih kritis.

Yang kedua ialah bahwa Yesus menggunakan Kitab Suci untuk me-review hal yang dilihat oleh kedua murid itu. Yesus mengajak mereka untuk melihat peristiwa yang sedang terjadi ini sebagai bagian dari keseluruhan rencana keselamatan Allah. Tentu bukan poinnya bahwa Yesus mengata-ngatai dua murid itu bodoh dan lamban hati; melainkan bahwa Yesus mengundang mereka untuk mengingat kembali hal-hal yang mereka lupakan. Maklum, dari sekian banyak pelajaran yang didapat, bisa jadi hanya 40 persen yang nyanthol di kepala. Dengan bantuan Kitab Suci, Yesus membantu para murid untuk menemukan kebijaksanaan dengan mengubah salib sebagai tanda kematian menjadi tanda kehidupan dan harapan.

Akan tetapi, Kitab Suci pada dirinya sendiri tidak bisa membuka mata orang terhadap pokok kedua tadi. Kitab Suci bukanlah benda ajaib dengan kekuatan magis yang bisa menyembuhkan sakit seseorang. Yang membuat para murid ngeh dengan penjelasan Yesus mengenai Kitab Suci (kamera selfie-nya) ialah pemecahan roti, yang dalam tradisi Gereja Katolik kemudian berkembang menjadi Perayaan Ekaristi. Inilah pokok ketiga dalam narasi murid Emmaus yang perlu dipertimbangkan: kebijaksanaan salib itu dibagikan dalam komunitas, bukan untuk digenggam sebagai kesucian pribadi.

Pokok keempat menjadi tolok ukur ‘efektivitas’ ketiga pokok sebelumnya, yaitu buah kebangkitan: para murid kembali ke Yerusalem. Pulang ke Emmaus menjadi simbol betapa mereka dikuasai oleh keputusasaan, mau kembali ke pola hidup lama tanpa susah-susah hidup dalam situasi tekanan orang-orang yang membunuh Yesus. Mereka tidak melarikan diri dari masalah, tetapi punya harapan baru untuk menghadapinya. Itulah kebangkitan.

Syukur kalau orang membaca Kitab Suci sendiri. Kalau tidak begitu pun, Gereja Katolik sebenarnya menyodorkan mekanisme membaca Kitab Suci dalam Perayaan Ekaristi. Pada perayaan itu disodorkan kamera selfie bagi umat beriman dan kamera ini tidak dipek dhewe alias dimengerti sebagai tafsir subjektif belaka, melainkan sebagai kekayaan komunitas (dengan pengandaian imamnya membuat penafsiran yang memadai). Tolok ukur apakah Ekaristi tadi berbuah ialah kebangkitan yang dialami imam dan umatnya.

Sayang, beberapa pihak mulai melancarkan tolok ukur yang bias dan reduktif: liturgi dinilai semata dari rubrik (tata aturan upacara) dengan mengatasnamakan hirarki dan bahkan penilaian mengenai dosa (silakan lihat misalnya tulisan terjemahan ini mengenai liturgi kreatif). Memang ada orang-orang yang senang keseragaman dan orang-orang lainnya senang bikin yang aneh-aneh. Akan tetapi, rasa saya, entah seragam (yang bisa jadi aneh), entah aneh-aneh, kalau Roh Kebangkitan itu sungguh hadir di situ, kita mau apa? Mau menyebutnya dosa?!


HARI RABU DALAM OKTAF PASKA
8 April 2015

Kis 3,1-10
Luk 24,13-35

Posting Tahun Lalu: What You Leave In Others…

1 reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s