Resurrection: Spiritual Selfie

Sebelum mati di kayu salib, sebenarnya Yesus sudah berkali-kali membuat selfie: menyitir Kitab Perjanjian Lama, memotret dirinya dengan nubuat para nabi mengenai Mesias, tapi siapa mau percaya? Bahkan murid-muridnya sendiri gak dhonk sampai saat kematiannya. Tidak hanya itu, setelah kebangkitannya pun, para pengikutnya masih susah mengenali kehadirannya. Kenapa begitu? Karena kamera yang dipakai untuk selfie itu sendiri adanya di hati, ihik3… (hati lagi, hati lagi, ntar ujung-ujungnya omong cinta lagi deh nih!!!) Kalau melihatnya tak pakai hati, ya gak bakal nangkep potret spiritual selfie itu.

Seperti Maria yang hari ini digambarkan menangis di dekat makam dan tidak segera mengenali Kristus yang bangkit, banyak orang melihat kesusahan dan penderitaan sebagai penghalang untuk mengenali Kristus yang ada di hadapannya. Maunya sih gak gitu, tetapi kenyataannya orang tidak mudah melihat “perkara-perkara di atas” (dalam bahasa Paulus) saat perkara-perkara di bawah itu menghantamnya. Sekali lagi, bukan karena gak bisa, melainkan hanya karena orang tak terbiasa menggunakan kamera selfie yang dipakai Yesus. Halah… ini omong kosong apa lagi sih “kamera selfie Yesus”?!

Saya terkesan pada seorang ibu yang anaknya menangis dan ibu itu tidak pertama-tama berusaha menghentikan tangis anaknya. Ia hanya bertanya seperti Yesus dan malaikat yang bertanya kepada Maria,”Mengapa engkau menangis?” Sebetulnya malaikat dan Yesus itu ya gak o’on, seolah-olah mereka butuh jawaban mengapa Maria menangis. Begitu pula ibu itu ya sudah tahu benar bahwa anaknya nangis karena kesakitan kakinya terantuk meja. Ia toh bertanya,”Kenapa nangis?” Ini bukan pula pertanyaan retorik, tetap membutuhkan jawaban. Dari jawaban itulah si ibu pelan-pelan membantu anaknya mengenakan kamera selfie yang juga dikenakan Yesus. Haisssh… podho wae, balik lagi, tetep gak jelas! Yo sik to…

Ibu itu membangun dialog yang sangat kondusif. Dengan simpatik ia memberikan penjelasan mengapa benturan kaki dan meja menimbulkan sensasi sakit. Yang lebih penting ialah bahwa si ibu mengkondisikan anaknya merasakan bahwa orang yang mencintainya ada di sampingnya, memahami kesusahannya, sakitnya. Lebih jauh dari itu, ia juga menjelaskan bagaimana sensasi sakit itu datang dan pergi, bahwa sakitnya bukan akhir dunia, dan malah akhirnya bisa tertawa bareng dan anak itu sendiri menyeka air matanya. Nah, sekali dayung, dua tiga pulau terlampaui: tangisnya berhenti, si anak punya pengalaman bahwa sensasi fisik itu comes and goes!

Terhadap orang dewasa, perlakuan ibu itu mungkin gak semerta-merta mendapat respon positif karena orang dewasa sudah punya aneka filter, self-defence mechanism yang membuat orang terkungkung pada kepentingan diri sendiri. Sapaan khas Yesus membantu Maria mengenali Yesus, tetapi Maria masih terkungkung pada masa lalu, seolah-olah mainan lama yang hilang itu ditemukan lagi. Ia belum juga melihat Kristus yang bangkit. Ia masih merasa itulah Yesus yang kemarin dulu begitu dekat dengannya, bahkan secara fisik.

Pasca kebangkitan, kedekatan dengan Yesus tak bisa diukur dengan selfie fisik, tetapi dengan spiritual selfie: seberapa jauh orang berkobar hatinya untuk mewartakan kebaikan Tuhan juga melalui kerepotan, kesusahan dan penderitaan hidupnya.


HARI SELASA DALAM OKTAF PASKA
7 April 2015

Kis 2,36-41
Yoh 20,11-18

Posting Tahun Lalu: Bangkit = Tobat

1 reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s