Iman Infantil

Untuk memahami kebangkitan Kristus, barangkali tiga aspek ini perlu diperhatikan: (1) intelektual, (2) afektif, dan (3) operasional. Aspek intelektual menunjuk pada keterbukaan pikiran terhadap Kitab Suci. Sewaktu Kristus menampakkan diri kepada para murid-Nya, Ia membuka pikiran mereka, sehingga mereka mengerti Kitab Suci (Luk 24,45). Kebangkitan Kristus tak bisa dimengerti tanpa acuan pada keseluruhan proyek keselamatan Allah yang dinarasikan sejak Perjanjian Lama. Orang bisa saja mengupayakan penelitian canggih terhadap peristiwa kebangkitan, tetapi tanpa referensi pada Kitab Suci Perjanjian Lama, ia kehilangan perspektif pemahaman peristiwa kebangkitan.

Aspek afektif menunjuk pada dampak atau buah warta kebangkitan yang menggerakkan seluruh kepribadian orang. Pada umumnya ini merupakan perasaan positif yang mengobarkan semangat hidup orang. Tidak ada orang yang mengerti peristiwa kebangkitan dan hidupnya dirundung duka dan kelesuan. Sewaktu Kristus menampakkan diri kepada para murid-Nya, mereka sedang menjalani skenario untuk pergi dari Yerusalem dan kembali ke pola hidup lama karena frustrasi, putus asa, kekecewaan, kekhawatiran dan aneka perasaan negatif lainnya. Akan tetapi, setelah penampakan Kristus itu, mereka pulang ke Yerusalem dengan sangat bersukacita (Luk 24,52).

Aspek operasional menunjuk pada konsekuensi praktis dari dua aspek lainnya. Tanpa aspek ini, dua aspek lainnya salah jalan atau orientasinya luput dan peristiwa penampakan tak lebih jadi penampakan hantu belaka. Dengan aspek operasional ini, iman akan kebangkitan bukan omdo’ lagi, melainkan sudah jadi sebuah kesaksian hidup orang yang mengerti kebangkitan itu sendiri. Kristus bukan lagi hantu, melainkan pribadi yang menemani hidup orang yang percaya pada-Nya.

Tiga aspek itu tak terpisahkan sebagai aspek penting iman seseorang. Aspek intelektual tidak diukur oleh IPK di kampus, tetapi oleh keterbukaan orang untuk senantiasa belajar secara lebih kritis. Orang bergerak dari iman yang infantil dan berusaha mengambil tanggung jawab dalam memperdalam imannya secara komprehensif. Maka, sikap umat beriman yang tak peduli dengan aspek intelektual ini cenderung beriman secara infantil: terserah apa kata romo dah, terserah apa kata uskup. Umat seperti ini suka shortcut, pokoknya tinggal terima hasil saja. Kepeduliannya cuma satu: mana aturannya, saya jalankan.

Aspek afektif mengukuhkan aspek intelektual itu sebagai penyeimbang tetapi juga untuk crosscheck: apakah pengertian seseorang menggerakkan batinnya untuk senantiasa mendekat pada Allah, atau sebaliknya. Jika orang semakin kritis tetapi rasa perasaannya ampang terhadap relasi pribadinya dengan Allah, ia tersesat (dan itulah mengapa sebagian orang menolak filsafat dalam upaya untuk menafsirkan Kitab Suci). Kesesatan itu bisa dilihat dari aspek operasionalnya: tak pernah lagi berdoa, semakin jarang memberi waktu untuk pemeriksaan batin atau examen, tutur kata dan tindakannya pun tidak inspiratif untuk membangun kultur kehidupan.

Kata infantil menunjuk sifat kanak-kanak yang belum bisa mandiri dan hanya ikut-ikutan, tetapi dalam penghayatan iman, sifat itu bisa kembali lagi saat usia dewasa atau senja ketika orang didera kepahitan hidup. Orang yang tak memahami kebangkitan Kristus, saat kepahitan menyerang, imannya kembali seperti saat kanak-kanak: ngambek, mutung, regresi, dendam, dll. Dinamika kebangkitan berlawanan arah dengan iman infantil.


HARI KAMIS DALAM OKTAF PASKA
9 April 2015

Kis 3,11-26
Luk 24,35-48

Posting Tahun Lalu: Ujung-ujungnya Apa Nih?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s