Kristenisasi Itu Nyata

Posting ini mungkin senada dengan tulisan Ciyus, Awas Kristenisasi!

Minggu lalu, setelah cukup lelah berenang, ketika hendak meninggalkan kolam renang, ada suguhan yang menarik perhatian orang-orang di sekitar kolam renang. Tontonan itu juga membuat saya merasa malu sendiri mendengar kata Kristus diucapkan. Bukan karena Kristusnya (saya tidak malu mengakui diri sebagai pengikut Kristus), melainkan karena nuansanya yang kurang empan papan. Yohanes Pembaptis berteriak-teriak menyerukan pertobatan dan mendorong orang untuk dibaptis di Sungai Yordan, tempat yang sungguh-sungguh publik. Memang kolam renang ini juga tempat publik, tetapi orang-orang yang tiba lebih dulu di situ membayar tiket untuk berenang, bukan untuk menonton ritual baptisan.

“Lah, elu renang, ya renang aja! Siapa suruh nonton orang baptisan?!”
“Yeeee… begimana gue mau renang, tempatnya lu pake buat nglelepin orang gitu!?”
“Halah, lebay pisan! Ini gue baptis orang juga gak pake kolam dari ujung sana ampe’ sini. Lu bisa renang di sana, kan? Gue gak ngeganggu elu! Nyatanya orang-orang lain juga pake renang kolam ini lu kagak protes! Sama aja kan itu membatasi ruang gerak lu? Itu, tuh, tuh, lihat, ada anak yang kagak renang malah nglelepin temennya, lu kagak protes?!”
“Yeeeee…. Lu pikir dong! Mereka pake baju renang n emang dari tadi juga mereka belajar renang n main air. Nah, elu dateng belakangan, masuk kolam renang malah pake seragam upacara. Upacara ya sono di lapangan dong, jangan di sini!”

Entah siapa pendetanya dan dari Gereja Kristen mana (Katolik kecil sekali kemungkinannya membaptis dengan cara itu, Gereja Kristen Jawa rasa-rasanya tidak begitu), saya tak mengerti apa yang ada di kepala pendeta itu dan belasan pengikutnya. Yang menonton acara baptisan itu hanya terbengong-bengong, tetapi yang ditonton pun mungkin juga merasa orang-orang di sekelilingnya adalah makhluk asing yang cukup dianggap sebagai batu, tak ada kontak dengan mereka, bahkan sekadar untuk ‘permisi’.

Adakah cinta kepada Tuhan tanpa cinta kepada sesama?
Mungkinkah menghormati Allah yang mahabesar tanpa menghormati sesama?
Bisakah memuliakan Tuhan tanpa memuliakan sesama?
Ya bisa, wong membunuh atas nama Tuhan saja bisa…. tapi gimana ya, rasanya itu masih ada yang ngganjel… Yang kecil-kecil begini ngganjelnya, lama-lama membahayakan juga di hadapan massa yang bisa jadi intoleran lantaran ngampet alias menahan-nahan diri demi toleransi. Apa tidak lebih baik umat beriman pun belajar empan papan dalam komunitas plural?

5 replies

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s