Memuliakan Tuhan, Mangsudnyah?

Injil hari ini menyebut-nyebut kata mempermuliakan dan dipermuliakan. Ini adalah bagian doa yang dilakukan Yesus sebelum berpisah dengan murid-muridnya. Sayangnya, ungkapan ini di kepala saya sudah lekat dengan motto yang ditularkan oleh Santo Ignasius dari Loyola: Ad Maiorem Dei Gloriam, demi lebih besarnya kemuliaan Tuhan. AMDG bagi saya sangat dekat dengan ungkapan gloria Dei vivens homo (kemuliaan Tuhan adalah manusia yang ‘hidup’) meskipun kedua ungkapan itu dilontarkan oleh dua tokoh yang berselisih waktu sekitar 13 abad (Irenaeus hidup pada akhir abad kedua, sedangkan masa kecil Ignasius ada pada akhir abad ke-15).

Dengan dua ungkapan padat makna itu bisa dijawab tanpa keraguan bahwa cara terbaik memuliakan Tuhan ialah justru dengan memuliakan Diri (bdk. pemahaman mengenai diri dalam Saat Tuhan Tiada). Mengapa? Karena dari pusat Diri itulah mengalir roh yang membuat orang sungguh-sungguh hidup. Jika roh itu terkekang atau terbelenggu oleh aneka konspirasi budaya kematian (keputusasaan, kelesuan, kegelapan, ketakutan, kebencian, egoisme, pesimisme, dan kawan-kawannya), kemuliaan Tuhan pun tak tampak.

Maka, ungkapan AMDG sama sekali tidak berarti bahwa kemuliaan Tuhan bisa ditambah oleh atribut lagu puji-pujian dengan ayat suci atau kata-kata bombongan yang diberikan orang kepada Tuhan! Kemuliaan Tuhan semakin tampak pada diri manusia yang sungguh hidup dari Roh, pada diri manusia yang hidup. Paulus menjadi contoh pribadi ‘tawanan’ Roh Kudus dan berkobar-kobar mengarahkan hidupnya kepada Allah sendiri dengan risiko yang tidak kecil. Santo Karolus Lwanga dari Uganda juga menunjukkan apa risiko orang yang hidupnya memuliakan Tuhan.

Pada masa konflik, pada saat terancam penderitaan, apalagi pada saat menderita, orang boleh saja bertanya di mana Tuhan, Ia seperti sosok negara yang absen di hadapan kekerasan! Akan tetapi, kalau sungguh menghayati AMDG, orang mesti mengingat dan menghayati juga bahwa Gloria Dei homo vivens. Maksudnya, bolehlah bertanya di mana Tuhan saat orang menderita, tetapi ia tidak perlu terus menerus sibuk dalam spekulasi pikiran mengenai Tuhan. Cukuplah orang menghidupi greget yang terarah kepada-Nya. Lha, repotnya kalau greget itu tak kelihatan, tak kelihatan pula kemuliaan Tuhan.


SELASA PASKA VII
Peringatan Wajib Santo Karolus Lwanga
3 Juni 2014

Kis 20,17-27
Yoh 17,1-11a

7 replies

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s