Merasa Bisa, Tak Bisa Merasa

Orang Jawa punya ungkapan dengan membolak-balik kata: hendaklah kita jadi orang yang bisa rumangsa, bukan rumangsa bisa. Kalau diterjemahkan kira-kira: jadi pribadi yang bisa merasa (baca:tahu diri) dan bukannya merasa bisa (merasa diri tahu). Ungkapan ini sejalan dengan metafora yang disodorkan bacaan pertama. Kita ini seperti vas atau bejana tanah liat yang menampung harta karun: rapuh tapi yang kita bawa adalah harta yang tak ternilai harganya. Seringkali orang gagal fokus: merasa dirinyalah harta yang tak ternilai itu, merasa dirinya sebagai pusat dunia, merasa dirinya sudah menemukan segala-galanya. Padahal, senyatanya ia adalah vas atau bejana tanah liat itu, yang meskipun indahnya bukan kepalang (pintar, kaya, cantik, populer), tetaplah rapuh.

Harapan dan kekuatan hidup kita tidak terletak pada keindahan bejana itu, tetapi pada potensi dahsyat yang berasal dari Allah. Dengan harapan seperti itulah orang beriman mampu menghadapi aneka kesusahan hidup: dalam segala hal mereka ditindas tapi tidak terjepit; mereka habis akal tapi tidak putus asa; mereka dianiaya tapi tidak ditinggalkan sendirian, mereka dihempaskan tetapi tidak binasa. Bahkan, mereka mati, tetapi kematian itu hanyalah peralihan jenis vas atau bejana yang malah jauh lebih kokoh, tak lekang waktu.

Bacaan kedua menunjukkan contoh orang yang gagal fokus. Ibu Yakobus bersaudara menjadi jubir anak-anaknya untuk meminta bejana atau vas yang indah: kekuasaan, jabatan, posisi. Yesus mengundang mereka untuk tak tertipu pada penampakan bejana itu. Bejana itu hanyalah wadah, yang tak selalu mencerminkan hal yang dimuatnya. Yakobus bersaudara meminta wadah, tetapi mereka tak tahu bahwa yang diwadahi itu jauh lebih penting: kemuliaan Allah sendiri.

Sayangnya, tak ada shortcut kepada kemuliaan jabatan, posisi, status dalam Kerajaan Allah selain penderitaan, pengorbanan dalam pelayanan. Mencari kemuliaan tanpa masuk dalam misteri penderitaan itu bak orang yang rumangsa bisa, dan tak bisa rumangsa bahwa ia laksana bejana nan rapuh, yang nilainya bergantung pada isi yang ditampungnya. Itulah mental yang pada umumnya dihidupi mereka yang mencari kekuasaan atau kekayaan. Loh, bukankah mereka yang cari kuasa dan harta itu ya berjibaku dulu sebelumnya: jer basuki mawa bea? Eaaaa…. tetapi jibakunya untuk diri sendiri. Kemuliaan Allah dikejar bukan untuk dirinya sendiri, melainkan untuk pelayanan bagi sesama.

Penderitaan umat beriman bukan pertama-tama penderitaan karena hukum ekonomis ‘ada uang ada barang’ (ana rega ana rupa), melainkan penderitaan sebagai konsekuensi memperjuangkan keadilan sosial, bonum commune, melawan tren perusakan lingkungan dan radikalisme agama, misalnya.

Tuhan, semoga aku Kaumampukan untuk menggunakan kekuatan atau kekuasaan untuk melayani sesama, bukan untuk menguasai mereka. Amin.


PESTA SANTO YAKOBUS RASUL
(Sabtu Biasa XVI B/1)
25 Juli 2015

2Kor 4,7-15
Mat 20,20-28

Posting Tahun Lalu: Jabatan = Pelayanan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s