Jabatan = Pelayanan

Mengenai rumus matematis ketidakadilan sosial, kita sudah tahu (kalau belum tahu atau lupa, lihat di sini ya). Ketidakadilan jenis ini tidak disebabkan pertama-tama oleh nafsu serakah orang-orang tertentu. Ingat saja pesan Bang Napi toh: kejahatan itu terjadi bukan [hanya] karena ada niat pelakunya, tetapi juga karena ada kesempatan! Struktur bisa memungkinkan kesempatan itu tercipta. Maka dari itu, ketidakadilannya jadi ‘menstruktur’ atau merebak secara sistemik.

Akan tetapi, stuktur seperti itu langgeng hanya karena pelaku-pelakunya tidak meresapkan sungguh-sungguh nilai keadilan. Jika nilai keadilan menjadi nilai dasariah para pelaku dalam strukturnya, tentu wujud stukturnya juga jadi sinkron dengan nilai keadilan. Memang pelaku dan struktur berhubungan. Oleh karena itu, perbaikan terhadap struktur menuntut suatu revolusi mental.

paro_spaBacaan pertama hari ini mengingatkan pembaca bahwa sekuat-kuatnya orang, sehebat-hebatnya tokoh, sepandai-pandainya ahli, seluruh kekuatan, kehebatan dan kepandaian itu ditampung dalam diri manusia yang rapuh. Tuhanlah yang memiliki kekuatan sesungguhnya dan Ia juga yang menyokong kerapuhan manusia supaya bisa menularkan kekuatan-Nya sendiri. Kerapuhan ini tidak dimaksudkan supaya umat manusia saling menghancurkan, tetapi supaya saling menguatkan.

Oleh karena itu, salah satu turunan dari revolusi mental ialah membuat struktur berfungsi sedemikian rupa sehingga kerapuhan-kerapuhan bangsa manusia itu tidak menghancurkan, tetapi justru semakin merajut kerapuhan. Lha ‘sedemikian rupa’ itu yang bagaimana?

Bacaan Injil hari ini lumayan keras: Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu, dan barangsiapa ingin menjadi terkemuka di antara kamu, hendaklah ia menjadi hambamu. Ini adalah paradigma di balik revolusi mental yang sangat efektif untuk memperbaiki struktur. Bagaimana konkretnya? Ya lihat saja modelnya: Jokohok!

Jabatan, status, posisi, properti, fasilitas istimewa yang dimiliki oleh sepertiga penduduk menjadi instrumen untuk mengelola seluruh sumber daya sehingga dua per tiga penduduk bisa memperoleh sumber daya yang sewajarnya! Artinya, kepemilikan fasilitas istimewa seorang pejabat masih ada dalam batas wajar rasa keadilan jika fasilitas itu membantunya untuk bekerja demi perwujudan keadilan sosial, bukan demi kepemilikan fasilitasnya itu sendiri.

Daggett-commencement-speech-quote
Jika di pelosok, seorang pejabat memiliki fasilitas pemerintah berupa mobil mewah, sementara mayoritas penduduknya berpendidikan rendah, kepemilikan mobil mewah itu bisa dibenarkan jika dipakai untuk mengefektifkan pendidikan penduduknya, bukan untuk plesir ke pantai-pantai yang masih perawan (saja)! Kepemilikan fasilitas mewah dibenarkan jika pemakaiannya berorientasi pada pelayanan publik. Yang seperti itu gak mungkin terjadi tanpa mentalitas kerja yang ditunjukkan Jokohok: pemimpin ialah pelayan publik. Kehebatan pemimpin terletak pada fokus pelayanannya daripada aneka privilese yang dimilikinya.


PESTA SANTO YAKOBUS RASUL
(Jumat Biasa XVI A/2)
25 Juli 2014

2Kor 4,7-15
Mat 20,20-28

2 replies

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s