Tolong Doa’in Prabowo Dong!

Ini permintaan tolong yang serius loh! Meskipun di luaran mencaci maki karakter ‘Prabowo’, ada baiknya dalam hati mendoakannya. Apa untungnya? Pertama, fisik dan mental kita tidak digergoroti oleh aneka kekesalan, kejengkelan, kemarahan, dan energi negatif lainnya. Kedua, siapa tahu doa itu benar-benar menjadi bantuan yang tepat dalam situasi yang tampaknya hopeless begitu? (Mungkin memang ada jenis sakit psikis yang secara teoretis tak tersembuhkan!) 

Mari lihat misalnya dalam sidang MK bagaimana ‘Prabowo’ yang menjadi saksi pada akhirnya berkata menuruti suara batinnya ketika hakim memintanya untuk jujur karena sudah disumpah sebagai saksi. Barangkali dia menerima akibat tak mengenakkan karena kejujurannya itu, tetapi sekurang-kurangnya bisa dilihat bahwa ruang pertobatan itu masih ada, dan ‘Prabowo’ ini menemukannya. Begitulah kerja Roh, lebih canggih daripada kerja manusia biasa.

Dalam kacamata itu pujian Bunda Maria dalam bacaan Injil hari ini bisa dipahami: kidung yang muncul dari Roh dalam dirinya. So, kalau Gereja Katolik hari ini merayakan Hari Bunda Maria diangkat ke surga, tak perlulah mempersoalkan bagaimana mengangkatnya, sewaktu pelayat masih ada atau selagi makamnya sudah sepi, naiknya seperti pesawat tinggal landas atau jasadnya lenyap begitu saja atau bagaimana. Keyakinan yang hidup sejak abad ke-4 ini memang baru dirumuskan secara resmi sebagai dogma Gereja pada abad yang lalu. Lewat rumusan keyakinan ini mau dinyatakan harapan masa depan kemanusiaan: bahwa pada akhirnya manusia pun akan ke sana.

Ia memperlihatkan kuasa-Nya dengan perbuatan tangan-Nya dan mencerai-beraikan orang-orang yang congkak hatinya; Ia menurunkan orang-orang yang berkuasa dari takhtanya dan meninggikan orang-orang yang rendah (Luk 1,51-52).

Apa ya Tuhan itu memang sirik sama orang-orang sukses atau ‘beruntung’ sih kok sampai segitunya mencerai-beraikan orang congkak dan menurunkan orang berkuasa?
Kidung pujian ini tak perlu ditangkap sebagai kutukan bagi mereka yang hidupnya nyaman, sukses, penuh kuasa, tetapi sebagai ajakan supaya kenyamanan, kesuksesan, dan kekuasaan itu dibagikan kepada mereka yang tidak memilikinya. Ingat soal keadilan sosial, bukan? Aneka privilese bisa dimaklumi sejauh dipakai untuk melayani mereka yang tidak memiliki privilese itu.

Dengan begitu, andaikan orang punya ‘privilese’ kewarasan, semestinya kewarasan itu tidak menjadi kecongkakan rohani, tetapi justru sebagai sarana untuk membantu yang dianggap ‘tidak waras’, bukan malah membuatnya semakin tidak waras. Lha, andaikan ‘Prabowo-Prabowo’ ini adalah representasi mereka yang tak waras, apa bukannya lebih baik mendoakan ‘Prabowo’ daripada terus menerus mengolok-oloknya? Apalagi kalau orang tak bisa membantu secara teknis, doa menjadi sarana konkret untuk membantu: di dunia ini, Tuhanlah yang berkuasa terhadap apa dan siapa pun; jadi biarlah Dia yang bertindak dan tak perlu kita paksa-paksa. Malah kalau kita memaksa-Nya, apa bedanya dengan ‘Prabowo’ tadi?


HARI RAYA SP MARIA DIANGKAT KE SURGA
(Hari Minggu Biasa XIX A)
10 Agustus 2014

Why 11,19;12,1.3-6.10
1Kor 15,20-26
Luk 1,39-56

1 reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s