Something more

Saya gagal memotret seorang anak SD di Bedugul, Bali, yang berjalan kaki sendirian dan di tengah perjalanannya dia berhenti sejenak di depan pura kecil di pinggir jalan. Ia membungkuk sebentar, memejamkan mata, tangan mengatup, lalu membungkuk lagi dan kemudian melanjutkan perjalanannya ke sekolah. Entah apa yang ada di benaknya, bisa jadi itu juga semata karena sudah otomatis dijalankan seturut ajaran orang tuanya (bdk. tahap perkembangan iman). Gerak itu mirip dengan orang-orang di Roma yang lalu lalang di jalan dan memberikan waktu sebentar untuk sekadar membungkukkan badan di depan patung Maria di pinggiran jalan. Bagaimanapun komentarnya, ini pesan yang saya temukan dari Youtube:

Seorang MC di hadapan ratusan audiens mengundang aktor handal dan seorang pastor yang sudah cukup tua untuk sebuah permainan. Aktor ini dikenal sangat piawai dalam akting, bahkan juga dalam memerankan sosok pastor. MC meminta mereka menyanyikan Mazmur. Si aktor tampak antusias tetapi sang pastor semula menolak permainan MC ini karena ia sadar tak punya keterampilan. Karena desakan audiens, yang adalah umatnya, ia pun akhirnya mengikutinya. 

Sang aktor menyanyikan Mazmur dan memukau umat sejak ia memulai menyanyi. Suaranya jernih, merdu dan cengkokannya bagus. Setelah selesai menyanyi, aktor itu masih mendapat tepuk tangan histeris dari umat. Giliran pastornya menyanyi, tidak ada tepuk tangan. Semua umat mendapati bagaimana pastornya menyanyi dengan diselingi batuk sesekali. Selama pastor itu menyanyikan Mazmur, tampaknya setiap umat mengenangkan bagaimana pastor sederhana itu berkotbah, membantu mereka, mengunjungi mereka. Ada pula yang menitikkan air mata haru mendengar suara pastornya menyanyi, tidak ada tepuk tangan sama sekali.

Baru setelah pastor menyelesaikan lagunya, umat berdiri dan memberikan tepuk tangan meriah. Sang aktor mendekati pastor itu dan setelah tepuk tangan mereda ia mengatakan kepada pastor,

“Pastor, saya tahu lagunya, tetapi Pastor mengenal Gembala yang sesungguhnya!”  

2 replies