Ojo Dumeh

Seringkali berkat yang besar berasal dari permulaan yang kecil, sebagaimana hujan besar juga bermula dari awan kecil yang kemudian membesar, entah seberapa cepat perubahan itu. Elia baru saja ‘mengalahkan’ nabi-nabi dewa Baal yang tak berhasil mendatangkan api untuk membakar kurban di atas mesbah mereka. Kurban di atas mesbah yang dibuat Elia, bahkan yang disirami dengan air, dilalap api setelah Elia berdoa mohon kemuliaan Allah sendiri.

the-rival-sacrifices-of-elijah-and-the-priests-of-baal-1545-2Setelah itu, Elia memerintahkan Ahab untuk makan dan minum, mengakhiri puasanya; sementara Elia sendiri pergi berdoa memohon hujan. Begitu ada tanda awan kecil, Elia memberitahu Ahab supaya cepat-cepat pulang sebelum hujan super deras tiba. Terlambat, Ahab keasyikan makan dan minum dan dengan gampang dan nyaman naik keretanya. Elia tak berkereta dan mesti lari; tetapi kuasa Allah membuat lari Elia lebih cepat dari laju kereta Ahab.

Kemudahan dan kenyamanan kerapkali menjadi kriteria pilihan orang dan mengabaikan hal-hal kecil yang sebenarnya menjadi penting jika dikaitkan dengan pencarian kehendak Allah. Bacaan Injil hari ini menjabarkan kritik Yesus terhadap mental korup penghayatan iman ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi: jika penghayatan kebenaranmu tak lebih kaya wawasan daripada hidup keagamaan ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, sesungguhnya kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Surga (Mat 5:20).

Sosok yang dikritik Yesus ini ialah mereka yang menghayati mental dumeh (mentang-mentang): mentang-mentang hafal Kitab Suci, lantas meremehkan orang yang tak jarang membaca Kitab Suci; mentang-mentang sudah menjalankan perintah agama, lalu merasa puas diri; mentang-mentang punya posisi penting dalam struktur Gereja, lalu menuntut orang lain supaya memenuhi aturan yang dibuatnya; mentang-mentang sudah kuliah teologi, lantas orang tak mau peduli dengan rambu-rambu yang diupayakan untuk menata hidup bersama.

Kristus memanggil pengikut-Nya untuk menangkap roh dari setiap bunyi peraturan agama dan mengikuti gerak roh itu dalam setiap momen kehidupan. Minta maaf setelah melakukan kesalahan atau menghancurkan hidup orang lain, itu sudah layak dan sewajarnya. Kalau orang merusakkan barang orang lain, lalu ia berusaha memperbaiki atau menggantinya, itu juga sesuatu yang lumrah.

Akan tetapi, kalau seseorang jelas-jelas dilukai, dan ia mengambil inisiatif untuk berdamai (pertama-tama dengan dirinya sendiri) dengan orang yang melukainya, ia menangkap panggilan Kristus: memelihara roh kehidupan, memupuk budaya kehidupan. Ia mendapat berkat yang mengatasi legalisme dari aneka aturan agama.


KAMIS BIASA X
12 Juni 2014

1Raj 18,41- 46
Mat 5, 20-26

1 reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s