Latihan Doa 22: To accept what I cannot change

1. Persiapan Doa (5-15 menit)

Memilih (baca semua secara sepintas lalu memilih salah satu yang dianggap menyentuh hati), menyiapkan bahan doa:
Mzm 22 (Allahku ya Allahku mengapa Engkau meninggalkan aku)
Mrk 4,35-41 (Meredakan badai)
2Kor 4,1-18 (Harta dalam bejana tanah liat)
Luk 22,39-46 (Ambillah cawan ini daripadaku, jika Engkau menghendakinya)
Mencari tempat doa yang kondusif, menonaktifkan apa saja yang bisa mendistraksi kegiatan doa.
Mengambil posisi yang paling kondusif untuk berdoa (duduk tegak, bersila, telungkup… tapi mungkin posisi ini nantinya membantu orang untuk tidur)

Doa persiapan:

Tuhan Yesus, aku mohon rahmat ketenangan dan keberanian supaya aku bisa memeluk erat kenyataan menyakitkan dalam hidupku yang tak bisa kuubah dan belajar berdamai dengan kenyataan itu.

2. Doanya sendiri (20-60 menit)

  • Hadirkan diri di hadapan Allah dan sampaikan kepada-Nya semua hal mengenai kenyataan pahit dalam hidupku saat ini yang sangat amat sulit sekali banget diterima. Rumuskan setepat-tepatnya, klarifikasi mana persisnya yang tidak bisa kuterima begitu saja.
  • Bahkan jika aku ingin ‘komplain’ kepada Allah, teruskan saja. Bicaralah dari hati dan berkeluh kesahlah. Ambil waktu untuk hal ini.
  • Elizabeth Kubler-Ross, seorang psikiatris, mengamati ada tahap-tahap kematian yang berbeda-beda pada mereka yang sekarat dan menderita penyakit terminal. Menurutnya, biasanya ada lima tahap dasariah yang dialami orang saat menghadapi kematian: (1) penolakan, (2) kemarahan, (3) tawar-menawar (4) depresi, dan (5) penerimaan.
    Ia yakin bahwa jika orang sangat sulit menerima kenyataan pahit apapun dalam hidupnya saat ini, sangat mungkinlah ia (meskipun gak harus sekarat) juga mengalami banyak tahap penerimaan yang tak begitu berbeda dari lima tahap kematian yang disebutkannya.
    Bagaimana lima tahap ini berlaku dalam kasusku? Apakah aku melihat tahap itu dalam hidupku saat ini?
    Mohonlah kepada Tuhan supaya ada bersamaku, supaya aku mampu mengambil langkah melalui tahap-tahap yang berbeda untuk sebuah penerimaan itu.
  • Doakanlah teks Reinhold Niebuhr (Serenity Prayer) dari kedalaman hati:
    Tuhanku yang terkasih, berilah aku keberanian untuk mengubah hal-hal yang bisa kuubah; dan berilah aku rahmat untuk menerima dengan tenang dan damai hal-hal yang tak bisa kuubah dan berilah aku kebijaksanaan untuk mengetahui mana yang bisa kuubah dan tidak dengan hidup dari saat ke saat, menikmati setiap saat; dengan menerima kerasnya hidup sebagai jalan menuju kedamaian; dengan menerima dunia penuh dosa ini seperti apa adanya sebagaimana Engkau menerimanya dan bukan sebagaimana aku menginginkannya; dengan percaya bahwa Engkau akan membuat semua hal ini baik adanya jika aku menyerahkan diri pada kehendak-Mu; bahwa aku pantas berbahagia dalam hidup ini, dan jauh akan berbahagia bersama-Mu nanti, selama-lamanya. Amin.

Melakukan wawancara batin

Mengimajinasikan Kristus yang bergantung di salib atau Bunda Maria dan menyampaikan hal-hal tadi dan mendialogkannya: hal tersulit untuk diterima dari pengalaman pahit yang kualami dan tahap-tahap untuk menerimanya. Nyatakanlah niat untuk menyerahkan diri kepada Tuhan dengan menyampaikan hasrat kepada-Nya untuk memercayakan diriku dan seluruh masa depan kepada-Nya.
Mohon berkat
Allah dan akhiri dengan rasa syukur yang tulus atas sentuhan Allah dan rahmat penghiburan, dengan doa Bapa Kami atau Jiwa Kristus atau Salam Maria.

3. Refleksi (5-15 menit)

Mencatat poin-poin penting dalam proses doa:
(1) perasaan-perasaan sebelum doa, pada saat doa, dan setelah selesai doa
(2) insight yang diperoleh dari doa tadi (baik yang bersifat informatif intelektual maupun spiritual)
(3) niat atau dorongan-dorongan yang muncul setelah doa.

1 reply