Insomnia: Ada Kalanya Orang Perlu Mundur

Dua belas tahun lalu muncul sebuah film naskah Christopher Nolan yang menyodorkan dua aktor kawakan Al Pacino dan Robin Williams. Judulnya Insomnia. Ceritanya sangat sederhana. Seorang polisi detektif Los Angeles, Will Dormer (diperankan oleh Al Pacino), dikirim ke Nightmute, wilayah Alaska, untuk menyelidiki kasus pembunuhan. Pada saat penyelidikan itulah terjadi insiden, Dormer tampaknya tanpa sengaja menembak rekan polisi setempat yang sebelumnya sempat bersitegang dengan Dormer.

Insiden itulah yang menjadi titik awal kerumitan kisah. Dormer sebetulnya cukup mempertahankan keadaannya bahwa ia tidak mampu melihat dengan baik dalam kabut; untuk orang normal saja sulit, apalagi bagi orang yang punya insomnia! Akan tetapi, ia justru memenuhi tuduhan polisi yang tertembak itu bahwa Dormer mau membunuhnya. Dormer memang akhirnya membunuhnya!

Film thriller ini berakhir tragis setelah Dormer memecahkan kasus pembunuhannya. Ia menemukan Finch, si pembunuh gadis yang kasusnya dipasrahkan pada Dormer, tetapi akhirnya mereka terlibat dalam baku tembak dan baik Finch maupun Dormer mati.

Secara sepintas, penonton bisa melihat bahwa Dormer salah karena telah membunuh agen polisi setempat. Akan tetapi, persoalannya tidak sesederhana itu, ada problem moral yang mendasari konflik batin dalam diri Dormer yang tampak setelah Dormer menjalin komunikasi dengan Finch, pelaku pembunuhan yang sedang diselidiki Dormer. Celakanya, Finch mengetahui insiden yang menimpa Dormer pada saat penyelidikannya.

Ada persoalan besar mengenai white lie: apakah berbohong demi kebaikan itu bisa diterima? Apakah tujuan menghalalkan cara?


Kerumitan persoalan yang dihadapi Dormer muncul begitu dia berusaha mencari alibi atas kekhilafannya; semakin ia asik dengan alibi dan skenario, semakin ia tidak sanggup lagi membedakan antara penampakan dan kenyataan sesungguhnya. Ia bahkan sempat mengancam Finch untuk menghabisinya dengan kesan bahwa pembunuhan itu merupakan kecelakaan murni, dan Finch menantang Dormer untuk melakukannya, tetapi kemudian berakhir tragis.

Kesalahan Dormer bukanlah pertama-tama bahwa dia menembak polisi lokal yang bekerja sama dengannya, melainkan bahwa ia menyangkal kerapuhan inderawinya dan tidak berani menanggung risiko kerapuhan itu. Ceritanya akan menjadi lain jika Dormer dengan gentle mengakui keterbatasannya dan menerima risiko kerapuhannya itu, termasuk tuduhan polisi lokal bahwa ia sengaja untuk membunuhnya. Ia bisa segera memberi pertolongan atau memanggil teman dalam tim untuk menyelamatkan nyawa polisi lokal itu. Dormer lebih memilih membunuhnya!


Setelah menyempatkan diri menonton debat capres-cawapres pertama kalinya, dari sudut pandang kerohanian sebetulnya ada pihak yang sudah sewajarnya secara ksatria mengakui kerapuhan, dan bukannya mencari aneka alibi, karena semakin kerapuhan disangkal, semakin menyebar pula wilayah kerapuhannya. Terlepas dari keberpihakan terhadap capres-cawapres tertentu, terlepas dari kenyataan bahwa semua capres-cawapres toh punya kerapuhan, rekam jejak yang buruk sewajarnya diterima sebagai rekam jejak yang buruk; tak perlu dilemparkan pada pihak ketiga sebagai pihak yang bertanggung jawab.

Rekonsiliasi tidak mungkin terjadi tanpa pengakuan guilty dari pihak yang secara objektif bersalah. Tentu pengakuan ini memuat risiko dan tanggung jawab yang mesti dipikul. Akan tetapi, di situlah letak sifat ksatria seseorang: menanggung konsekuensi kerapuhannya, bukan malah mencari-cari pembenaran, memasang topeng atau mencari kambing hitam.

Saya ingat pertanyaan seorang cawapres yang jelas dirumuskan secara sederhana: bagaimana Bapak ingin menyelesaikan pelanggaran HAM masa lalu dan menjaga HAM dipertahankan pada masa datang. Ini kan pertanyaan metodologis, tetapi malah dijawab oleh capres sebagai pertanyaan substansial dan seolah-olah pertanyaannya berganti: Bapak ini dulu melanggar HAM ya? Bagaimana Bapak menjelaskan pelanggaran HAM yang Bapak lakukan? Lah…kayaknya gak sampai segitunya deh kalau pertanyaan cawapres itu mesti dirumuskan ulang.

?????????????????Maka, usul saya sih, kalau memang ada sepercik pengakuan akan kekeliruan masa lalu, mbok uwis mundur wae… itu akan jauh lebih mengundang simpati daripada terus menerus berakrobat menghindari aneka fakta yang sedikit demi sedikit toh mulai terkuak.

“To share your weakness is to make yourself vulnerable; to make yourself vulnerable is to show your strength.”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s