Tahap Perkembangan Iman

James Fowler adalah teolog (yang mempelajari ilmu tentang Tuhan, yang diimaninya) yang memanfaatkan penelitian ilmiah psikolog Lawrence Kohlberg untuk memahami dinamika perkembangan iman. Kohlberg meneliti motif tindakan orang. Dua orang bisa melakukan tindakan yang sama dengan motif beda. Dua orang tampak khidmat memejamkan mata berlutut di depan altar. Yang satu sedang mengelabui mertuanya supaya ia tampak alim dan yang lainnya sedang menjalankan hukuman dari orang tuanya yang konservatif!

Ada enam tahap perkembangan iman yang diuraikan Fowler, tetapi ada juga pra-tahap pembentukan iman yang berlaku untuk anak berusia 0-2 tahun. Pada saat itu anak membangun kepercayaannya terhadap perlakuan yang diberikan ortu sebelum ia mampu omong. Saat itu sebetulnya sudah ada pra-imaji (bayi yang dilingkupi suaru keras tentu kelak punya imaji tersendiri mengenai kekerasan; bayi yang dilingkupi senyum atau kemarahan tentu juga kelak punya imaji tersendiri mengenai hidup).

  1. Iman intuitif-proyektif (3-7 tahun)
    Pikiran aktif dan bebas, dipenuhi dengan fantasi, tindak imitasi terhadap contoh, perilaku, cerita orang dewasa. Pola berpikir anak pada usia ini relatif mengalir, terus menerus mendapati hal baru tetapi belum bisa merangkai kebaruan itu, sehingga pengetahuannya tak stabil. Ini adalah fase kesadaran-diri pertama yang sifatnya egosentrik: belum pikir mengenai perspektif orang lain. Kekuatan fase ini: munculnya imajinasi, kemampuan untuk menyatukan dan memahami dunia pengalaman dalam imajinasi yang hidup. Bahaya fase ini: kemungkinan ‘kepemilikan’ imajinasi yang diisi oleh teror dan hal destruktif, atau eksploitasi imajinasinya dengan tabu atau doktrin agama dan moral (imaji neraka-surga misalnya). Yang mendorong transisi ke tahap berikutnya ialah perhatian anak yang berkembang untuk mengetahui bagaimana sesuatu ada dan mengklarifikasinya sendiri demi memastikan apa yang nyata dan apa yang hanya tampak nyata.
  2. Iman mitis-literal (7-11 tahun):
    Anak mulai mengambil sendiri cerita, keyakinan dan aturan yang memberi simbol identitas tertentu. Keyakinan, aturan dan sikap moral ditafsirkan secara literal (7 hari penciptaan ya berarti dari Senin sampai Minggu). Simbol ditangkap sebagai satu dimensi dan bermakna literal. Sudah mulai berkembang pengertian perspektif orang lain bahkan cenderung konformis: menyesuaikan diri dengan apa kata orang; otoritas diakui ada di luar dirinya. Pelaku dalam kisah suci yang dipahaminya bersifat antropomorfis (maka Allah juga digambarkan bersifat seperti manusia: bertangan, berperasaan, dan sebagainya). Kekuatan fase ini: munculnya kisah, drama atau mitos sebagai cara untuk menemukan kecocokan dengan pengalamannya. Bahaya fase ini: keterbatasan pemaknaan literal dan kepercayaan yang berlebihan terhadap prinsip timbal balik untuk membangun lingkungan eksklusif. Bisa mengakibatkan dua ekstrem: (1) overcontrolling dan perfeksionisme kaku atau hidup saleh dan, sebaliknya, (2) tunduk pada keburukan karena ‘salah asuhan’, abai atau kecewa terhadap orang penting dalam lingkarannya. Yang mendorong transisi ke tahap berikutnya: kontradiksi cerita suci yang menuntun anak untuk merefleksikan makna. Literalisme mulai luntur, kekuatan kognitif mulai mengkritisi ilusi guru dan ajaran yang telah diterimanya. Mulai diperlukan relasi yang lebih personal.
  3. Iman sintetik-konvensional (12-18 tahun)
    Cakupan kognisi semakin meluas: keluarga, sekolah, kerja, peer group, media, dan mungkin agama. Iman mengorientasikan aneka kenyataan dan keterlibatan yang kompleks. Iman menjadi sintesis aneka nilai dan informasi sebagai basis identitas dan pandangannya. Tahap 3 ini bagi kebanyakan orang menjadi tempat tegangan permanen (artinya, sampai tua tetap saja pergumulannya di seputar hidup saleh atau aturan). Iman tidak otomatis terinternalisasi pada tahap ini, masih dibutuhkan model, maka sebagian orang cenderung menjauh dari institusi agama, tak punya komitmen hidup (beragama) pada tahap ini. Kekuatan fase ini: mulai ada keterlibatan abstraksi, pola berpikir hipotetis dan refleksi mendalam; narasi dan kisah, drama atau mitos menjadi miliknya juga, lebih personal sifatnya. Bahaya fase ini: harapan dan evaluasi orang lain bisa sedemikian terinternalisasi sehingga kemudian otonomi penilaian dan tindakannya malah membahayakan (jika input yang diterimanya membahayakan); sebaliknya, jika ada pengkhianatan bisa timbul keputusasaan mengenai prinsip iman (menyangkal eksistensi dan relasi dengan Allah). Yang mendorong transisi ke tahap berikutnya: konflik serius antara sumber-sumber otoritas nilai; perubahan yang jelas mengenai kebijakan atau aturan yang dulu dianggap  sakral (bahasa Latin dihapus, area dekat altar jadi tempat tarian, imamnya menyalami umat, misalnya).
  4. Iman individuatif-reflektif (18-30 tahun)
    Tahap ‘demitologisasi’ kisah suci yang memuat perkembangan ganda: (1) identitas diri yang lebih otonom, tidak ditentukan oleh penilaian dan evaluasi orang lain dan (2) pandangan-dunia yang menentukan kerangka makna tertentu yang terbedakan dari kerangka makna orang lain. Kekuatan fase ini: mulai ada kapasitas refleksi kritis mengenai identitas dan ideologi. Orang sungguh memiliki imannya yang personal; orang mulai terhubung kembali dengan Gereja. Bahaya fase ini: kekuatan tadi bisa eksesif menjadi terlalu PD, narsis dan ideologis. Yang mendorong transisi ke tahap berikutnya: orang mulai memperhatikan hal-hal yang tampak seperti anarki dan suara-suara batin yang mengusik. Kisah, simbol, mitos dan paradoks dalam tradisinya atau tradisi lain bisa juga menantang ‘kerapian’ iman yang dimiliki sebelumnya. 
  5. Iman konjungtif (30-40 tahun)
    Pada tahap ini orang melihat kompleksitas kebenaran dan sekaligus punya komitmen pada tradisi yang dihidupinya. Orang mampu mendamaikan paradoks atau kontradiksi dalam pikiran dan pengalaman. Ada orientasi dan komitmen pada keadilan yang terbebaskan dari ikatan suku, klas, agama atau bangsa. Ada pengakuan bahwa orang lain pun mungkin menemukan makna dan identitas dengan cara yang berbeda dari dirinya. Kekuatan fase ini: muncul kekuatan imajinasi yang ironis, yaitu kemampuan untuk memahami makna terdalam sekaligus mengakui bahwa sifatnya parsial, relatif dan bahkan bisa mendistorsi kenyataan transenden. Bahaya fase ini: karena pemahamanan paradoksal dari kebenaran itu, orang bisa pasif bahkan lumpuh atau menarik diri secara sinis dari kebenaran. Yang mendorong transisi ke tahap berikutnya: dorongan untuk mengaktualisasikan inklusivisme keselamatan secara radikal. 
  6. Iman yang menguniversal (40 tahun lebih)
    Jarang sekali orang sampai pada tahap ini. Pada tahap ini, orang menjadi inkarnator dan aktualisator roh komunitas manusiawi yang inklusif. Roh ini menular dalam arti membuat wilayah bebas dari sekat sosial-politik-ekonomi-ideologi. Universalizer (orang yang menghidupi roh yang menguniversal tadi) biasanya dialami sebagai orang yang subversif terhadap struktur (agama misalnya). Banyak universalizer mati di tangan mereka yang tak suka pada perubahan yang dilihatnya; seringkali mereka itu dihargai setelah kematiannya lebih daripada saat mereka masih hidup: Gandhi, Martin Luther King, misalnya.

Enam tahap itu jelas tidak terikat pada kronologi tahun secara linear. Ada saja orang yang umurnya sudah berkepala lima atau enam tetapi sibuk dengan aturan karena ia belum pernah menginternalisasikan imannya (meskipun ia setiap minggu beribadat)! Iman bagi orang seperti ini adalah yang penting ke gereja, titik. Bagi orang seperti ini, jadi orang beriman itu tidak perlu aneh-aneh, yang penting ikuti hukum dan aturannya, selesai. Ciao ciao!

13 replies

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s