Am I really a sinner?

Orang yang sedikit diampuni, sedikit juga berbuat kasih.
Dosanya yang banyak itu [tentu] telah diampuni, sebab ia telah banyak berbuat kasih.

Kemarin saya lihat monitor colonoscopy yang  dengan jelas menunjukkan kondisi usus seorang teman secara real-time yang sudah sekian lama mengalami konstipasi (sembelit, susah buang air besar, bahkan susah buang angin besar maupun kecil). Kondisi ususnya kotor dan mengganggu kemampuan peristaltik untuk mengantar sisa-sisa pengolahan makanan ke pintu pembuangan. Bisa saya mengerti betapa kondisi itu menyiksa. Ini beda dengan teman saya yang satunya, yang wajahnya sering berseri-seri atau sumringah sendiri. Saya tahu sebabnya: ia sukses buang angin!

Tak mengherankan ada ungkapan: selama kusembunyikan dosaku, batinku tertekan dan aku mengeluh sepanjang hari!

Iman yang dewasa gak pake’ logika do ut des: aku berbuat amal baik supaya kelak memperoleh ampunan, memperoleh berkat, mendapat pahala dan ganjaran surga! Iman yang mendalam disokong oleh kepercayaan diri (alias kerendahan hati!) bahwa orang terlebih dahulu diampuni (ususnya terlebih dulu bersih) sebelum ia bisa berbuat kasih yang melegakan. Semakin besar iman seseorang, semakin besar pula cintanya.

Loh, nyatanya kok tak sedikit orang mengklaim beriman tapi hidupnya malah dipenuhi kebencian dan hawa perang? Persis, karena mereka tak bisa merasakan pengampunan Allah! Mengapa tak bisa merasakannya? Karena tidak merasa diri sebagai pendosa! Pendosa itu orang lain: pelacur, koruptor, pembunuh, garong, pelanggar hukum agama dan sebagainya.

Dari kelompok orang seperti ini ada juga yang toh merasa dirinya juga pendosa, tapi semata hanya karena menerima dalil utak-atik-otak bahwa setiap manusia tentu punya dosa. Ia tak tahu persis apa kedosaannya, dan tidak sungguh-sungguh merasakan diri sebagai pendosa. Arogansinya jauh lebih kuat daripada kesadaran diri sebagai pendosa sehingga ia menjadi hakim sekaligus pelaksana penegakan hukum untuk orang lain: yang tak seagama berarti kafir, yang melanggar hukum agama harus dibredel, dicambuk, dipenggal, dan sebagainya.

Ya Tuhan, aku mohon rahmat kepekaan hati sebagai pendosa supaya aku semakin mampu mencinta.


KAMIS BIASA XXIV
18 September 2014

1Kor 15,1-11
Luk 7,36-50

1 reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s