Waton Suloyo

Belakangan ini, sudah sejak lama, bangsa Indonesia disodori aneka wacana yang sifatnya waton suloyo (dengan pelafalan ‘o’ seperti pada kata bom), asal-asalan, ngajak ribut tanpa mau mikir apa yang dikatakannya. Pokoknya yang penting bikin kisruh; ini adalah strategi untuk memenangi sesuatu. Barangkali itu pula yang dihadapi Yesus ketika ia mulai bicara mengenai Yohanes Pembaptis. Para pengikutnya bertanya apakah Yesus adalah mesias yang dinantikan orang. Yesus hanya meminta mereka untuk membuka mata dan hati atas apa saja yang sudah dibuat Yesus: penyembuhan, pengusiran roh jahat, dan sebagainya. Ajakan Yesus itu mengundang kepercayaan para murid Yohanes tetapi rupanya tidak menarik minat orang-orang Farisi yang juga tidak memberikan diri pada baptisan Yohanes.

Mengenai orang-orang yang seperti kaum Farisi itulah Yesus melanjutkan wacana. Konon, ill-will never speaks well. Orang seperti Yohanes yang sangat asketis (tak hobi makan minum) mereka sebut sinting, tetapi orang seperti Yesus yang sangat supel dan suka makan bahkan dengan pendosa mereka sebut sinting juga! Mereka tidak menerima cara hidup yang ditunjukkan baik oleh Yohanes Pemandi maupun Yesus. Yang mereka terima ya hanya standar mereka sendiri! Inilah yang membuat mereka punya sifat waton suloyo.

Orang berhenti waton suloyo, sesuai dengan bacaan pertama, jika ia punya hikmat cinta. Orang yang punya cinta mengetahui sungguh-sungguh apa yang terbaik sebagai cara hidup bagi dirinya tanpa harus memukul rata bahwa orang lain harus memiliki cara hidup seperti dirinya. Inilah insight dari  kata magis (“lebih”) dalam azas dan dasar. Setiap orang mesti menemukan apa yang lebih baik dan terbaik bagi dirinya sendiri untuk memuliakan Tuhan dan tak perlu waton suloyo. Kenapa? Pengetahuan kita tidak lengkap dan nubuat kita tidak sempurna. Dalam keadaan seperti itu, semangat terus mau belajar (yang nota bene tidak identik dengan sekolah) tampaknya lebih elegan daripada menjalani hidup dengan modal waton suloyo atau waton ngeyel.


RABU BIASA XXIV
Pesta Santo Robertus Belarminus SJ
17 September 2014

1Kor 12,31;13,1-13
Luk 7,31-35

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s