Untung Ada Tivi! Atau Sial?

Ada tambahan untuk posting Untung Ada Prabowo: orang sederhana semestinya jadi melek media! Semestinya…

Apa tanda orang melek media? Ia punya kesadaran akan beberapa hal berikut ini (saya dapat ide dari buku Finding God in the Dark):

  • Semua media adalah konstruksi, (berusaha) membangun aspek-aspek kenyataan tertentu. TV, misalnya, bukan kaca akuarium yang membiarkan mata kita melihat apa saja yang ada di dalamnya. Berita-berita semasa pilpres kemarin jelas menunjukkan hal ini. TVOne bilang begini, MetroTV bilang begitu. Mungkin cukup masuk akal kalo dibilang media itu seperti suryakanta: memperbesar bagian tertentu, bergantung pada kepentingan pemilik atau stakeholder-nya. Lha, melek media berlawanan arah: ia membongkar kepentingan ideologis media, ia tidak menerima mentah-mentah apa yang disampaikan media.
  • Penonton membuat bargaining makna dengan media seturut modal individualnya: perasaan, kebutuhan, kesenangan, sikap rasial, kecenderungan seksual, pijakan moral, dan sebagainya. Anak muda yang dorongan seksualnya bergelora tidak akan berlama-lama dengan televisi pendidikan karena isinya teori yang tak dibutuhkannya. Ia berusaha mencari saluran TV yang menyokong orientasi seksualnya. Sebaliknya, ada juga yang tak menemukan makna dari saluran berita politik karena di situ dilihatnya sosok-sosok munafik dan lebih baik baginya menonton pertandingan sepak bola saja (seolah-olah dalam sepakbola tak ada kemunafikan).
  • Pesan media punya implikasi komersial. Kebanyakan produk media adalah bisnis, maka mesti cari untung dong. Penonton boleh saja komplain bahwa siaran langsung olah raga diselingi iklan yang mengganggu. Lha, lu pan bisa nonton karena ada iklan yang mau bayar brow! Maka, gak perlu heran juga kalo ada iklan yang mati-matian promosi anti AIDS dengan kondom…sponsornya pabrik kondom bray! Targetnya sih mulia, tapi ujung-ujungnya…duit! Selain itu, pesan media juga punya implikasi sosial dan politis, itu mengapa media bisa dimanfaatkan dalam ontrang-ontrang politik.
  • Pesan media punya muatan nilai dan ideologi. Dalam arti tertentu, produk media merupakan iklan akan nilai dan lifestyle. Entah terang-terangan atau tidak, media populer menyampaikan pesan ideologis tentang isu seperti ciri hidup baik dan nilai konsumerisme, peran wanita, kekuasaan, patriotisme dan sebagainya.

Lha, entah nonton TV atau nonton film, kalau ia tidak punya kesadaran media seperti itu, ia jadi bulan-bulanan media. Ia tak sanggup mengambil jarak atau istilah kerennya (alias susah) distansiasi. Cilakanya, semakin orang tak mampu melakukan distansiasi, semakin ia kehilangan identitas dirinya. Ia hanyut dalam efek bola salju kemunafikan. Mau tahu contohnya? Gak usah disebut deh, wong sudah jelas. Orang seperti ini, omongannya semakin tak konsisten dan tindakannya sangat infantil dan maksa’… dan asyiknya, diliput media!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s